Konsumen semakin kritis terhadap klaim kosmetik. Pertanyaan bergeser dari “apa kandungannya?” menjadi “apa buktinya, dan bagaimana produk ini diuji?”
Bahasa kosmetik beberapa tahun terakhir semakin dipenuhi istilah yang terdengar ilmiah. Clinically tested, scientifically proven, dermatologically tested, hingga angka persentase efektivitas muncul pada kemasan dan komunikasi produk. Konsumen pun semakin terbiasa melihat kandungan, konsentrasi, hasil pengujian, serta sumber klaim sebelum menentukan pilihan.
Perubahan tersebut mulai terlihat dalam riset pasar. Dilansir dari Mintel pada 2026, konsumen skincare semakin menuntut transparansi dan pembuktian, sementara tiga dari empat konsumen Amerika Serikat menyatakan merek kecantikan seharusnya memberikan lebih banyak bukti ilmiah untuk mendukung klaimnya. Mintel juga melihat konsumen semakin skeptis terhadap klaim berlebihan dan mulai menempatkan efektivitas sebagai faktor penting dalam menilai produk.
Baca Juga: Mengapa Tekstur Ringan Semakin Dicari dalam Produk Kosmetik?
Klaim Mulai Mempengaruhi Formula Sejak Awal
Perubahan perilaku tersebut membuat pengembangan produk tidak cukup dimulai dengan memilih bahan yang sedang populer. Tim pengembangan perlu mengetahui manfaat apa yang ingin dikomunikasikan, data apa yang tersedia untuk mendukungnya, serta pengujian apa yang mungkin dibutuhkan pada produk akhirnya. Keputusan mengenai formula dan keputusan mengenai klaim karena itu semakin sulit dipisahkan.
Dikutip dari Labcos.id, Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm. merumuskan hubungan tersebut melalui alur Mechanism → Ingredient Evidence → Formulation Evidence → Relevant Testing → Responsible Claim. Intinya, bukti mengenai sebuah bahan tidak otomatis menjadi bukti mengenai produk jadi karena bahan tersebut telah masuk ke sistem formula yang berbeda. Konsentrasi, pH, pengawet, emulgator, proses produksi, hingga penyimpanan dapat memengaruhi performanya.
Hal tersebut juga menjelaskan mengapa menambahkan bahan yang memiliki penelitian kuat belum cukup untuk membawa seluruh kesimpulan penelitian tersebut ke kemasan. Formula perlu dikembangkan dengan mempertimbangkan apakah bahan tetap stabil dan berfungsi dalam produk akhir. Jika klaim tertentu ingin digunakan, metode pengujiannya juga perlu menjawab klaim yang benar-benar akan disampaikan kepada konsumen.
BPOM melalui Peraturan Nomor 3 Tahun 2022 menegaskan bahwa klaim kosmetik harus benar, objektif, tidak menyesatkan, serta dapat dibuktikan dengan data pendukung yang relevan. Klaim seperti dermatologically tested, hypoallergenic, atau clinically tested juga membutuhkan pengujian dengan metodologi yang valid dan sesuai.
Baca Juga: Mengapa Produk Multifungsi Semakin Menarik bagi Industri Kosmetik?
Angka Besar Tidak Selalu Menjadi Bukti yang Lebih Kuat
Konsumen yang semakin kritis juga membuat angka persentase perlu digunakan dengan lebih hati-hati. Pernyataan seperti “90 persen merasa kulit lebih lembap” dapat berasal dari penilaian konsumen, sedangkan perubahan hidrasi yang diukur menggunakan instrumen merupakan jenis data berbeda. Keduanya dapat berguna, tetapi menjawab pertanyaan yang tidak sama.
Dikutip dari Labcos.id, Apt. Cahya menempatkan metodologi pengujian sebagai bagian penting dari validasi klaim, termasuk penggunaan parameter objektif, pengukuran sebelum dan sesudah penggunaan, tolerabilitas, serta dokumentasi respons. Prof. Dr. apt. Keri Lestari, M.Si. juga menempatkan uji klinik kosmetik sebagai sarana untuk memvalidasi aktivitas kosmetik, sehingga bahasa klaim seharusnya mengikuti apa yang benar-benar dibuktikan oleh desain penelitian.
Dorongan terhadap bukti tidak berarti semua kosmetik harus berubah menjadi produk dengan komunikasi sangat teknis. Tantangannya justru menerjemahkan data menjadi informasi yang mudah dipahami tanpa melebih-lebihkan kesimpulan. Semakin kuat kata yang digunakan, semakin kuat pula dasar pembuktian yang dibutuhkan.
Bagi pengembangan kosmetik, pertanyaan “mana buktinya?” akhirnya mengubah urutan kerja. Klaim tidak lagi ideal jika baru dipikirkan ketika formula selesai dan materi pemasaran mulai dibuat. Produk yang ingin dipercaya konsumen perlu dirancang sejak awal agar bahan, formula, metode pengujian, dan bahasa komunikasinya menceritakan hal yang sama. [][Eva Evilia/LBF]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.