Di atas meja laboratorium, sebuah formula bisa terlihat sempurna. Teksturnya sesuai, aromanya pas, warnanya menarik, dan ketika diaplikasikan pada kulit terasa seperti produk yang sudah siap masuk ke dalam kemasan. Namun, perjalanan sebuah kosmetik tidak berhenti pada keberhasilan membuat beberapa ratus gram formula.
Ada jarak cukup panjang antara formula yang berhasil dibuat oleh formulator dan produk yang siap diproduksi dalam jumlah besar. Di laboratorium, banyak variabel masih dapat dikendalikan dalam skala kecil, mulai dari jumlah bahan, alat yang digunakan, hingga kecepatan proses. Ketika formula masuk ke fasilitas produksi, jumlah bahan menjadi jauh lebih besar dan proses yang terlihat sederhana mulai menghadapi persoalan yang berbeda.
Inilah alasan sebuah formula yang bagus belum tentu langsung menjadi formula yang siap diproduksi.
Ketika Skala Mengubah Cara Formula Berperilaku
Membuat satu kilogram krim dan membuat ratusan kilogram krim bukan sekadar memperbesar semua angka dalam formula. Volume bahan berubah, kapasitas peralatan berubah, perpindahan panas berbeda, dan proses pencampuran tidak lagi terjadi dalam kondisi yang sama. Sesuatu yang mudah homogen dalam wadah laboratorium belum tentu menghasilkan karakter serupa ketika diproses di dalam tangki produksi.
Membuat satu kilogram krim dan membuat ratusan kilogram krim bukan sekadar memperbesar semua angka dalam formula. Volume bahan berubah, kapasitas peralatan berubah, perpindahan panas berbeda, dan proses pencampuran tidak lagi terjadi dalam kondisi yang sama. Sesuatu yang mudah homogen dalam wadah laboratorium belum tentu menghasilkan karakter serupa ketika diproses di dalam tangki produksi.
Kecepatan dan urutan pencampuran juga dapat memberikan pengaruh terhadap karakter produk. Beberapa sistem formulasi membutuhkan pengaturan temperatur, waktu pencampuran, serta tahapan penambahan bahan yang cukup presisi agar bentuk akhir produk tetap sesuai spesifikasi. Karena itu, proses scale-up bukan pekerjaan memperbesar resep, melainkan menerjemahkan formula laboratorium menjadi proses produksi yang dapat dikendalikan.
Persoalan lain muncul karena kosmetik bukan hanya kumpulan bahan yang dicampurkan menjadi satu. Ada emulsi yang perlu dipertahankan kestabilannya, bahan yang sensitif terhadap temperatur, komponen yang harus tersebar merata, hingga karakter sensori yang diharapkan tetap konsisten. Sedikit perubahan proses dapat membuat produk yang secara komposisi sama terasa berbeda ketika digunakan.
Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm. menjelaskan bahwa di sinilah peran manufaktur menjadi lebih luas daripada sekadar menjalankan formula yang diberikan. Pabrik perlu memahami bagaimana formula berinteraksi dengan peralatan, proses, lingkungan produksi, dan parameter yang dapat memengaruhi hasilnya. Peraturan BPOM Nomor 25 Tahun 2019 tentang Pedoman Cara Pembuatan Kosmetika yang Baik bahkan menempatkan bahan awal, proses produksi, pengawasan mutu, bangunan, peralatan, dan personel sebagai bagian yang menentukan mutu produk.
Produk yang Baik Harus Bisa Diulang
Ada satu pertanyaan yang lebih penting daripada apakah sebuah formula berhasil dibuat sekali: apakah hasil yang sama bisa dibuat kembali?
Ada satu pertanyaan yang lebih penting daripada apakah sebuah formula berhasil dibuat sekali: apakah hasil yang sama bisa dibuat kembali?
Kosmetik diproduksi dalam batch, dan konsumen tidak seharusnya menerima pengalaman yang sangat berbeda hanya karena membeli produk dari waktu produksi yang berbeda. Warna, aroma, tekstur, karakter fisik, dan parameter mutu lainnya perlu berada dalam spesifikasi yang telah ditetapkan. Karena itulah konsistensi menjadi salah satu persoalan penting ketika formula berpindah dari meja laboratorium menuju produksi.
Prinsip tersebut juga terlihat dalam ISO 22716 tentang Good Manufacturing Practices untuk kosmetik, yang memberikan panduan mengenai produksi, pengendalian, penyimpanan, dan pengiriman produk kosmetik. Pedoman manufaktur kosmetik FDA juga menekankan pentingnya instruksi produksi tertulis, pengendalian bahan, proses pencampuran, pengambilan sampel, serta pemeriksaan produk selama dan setelah proses produksi. Sebuah produk yang baik bukan hanya produk yang dapat dibuat, tetapi produk yang proses pembuatannya dapat dikontrol dan hasilnya dapat dievaluasi.
Itulah yang membuat perjalanan dari formula menuju produk komersial sering membutuhkan penyesuaian. Formulator, tim produksi, pengawasan mutu, dan bagian lain dapat melihat formula yang sama dari kebutuhan yang berbeda, kemudian mencari titik kerja yang memungkinkan produk tetap memenuhi karakter yang dirancang. Proses tersebut tidak berarti formula laboratorium gagal, melainkan menunjukkan bahwa manufaktur memiliki kompleksitas yang tidak selalu terlihat ketika produk masih berada dalam wadah kecil di meja formulasi.
Labcos pernah membahas bahwa pengujian kosmetik berlangsung berlapis, mulai dari bahan baku, formulasi, hingga produk jadi. Dari perspektif manufaktur, lapisan itu bertambah dengan satu pertanyaan penting: apakah formula tersebut dapat diterjemahkan menjadi proses yang stabil, terkontrol, dan dapat dilakukan kembali ketika volume produksi meningkat?
Keberhasilan sebuah formula karena itu tidak cukup dinilai dari bagaimana produk terlihat setelah selesai dibuat di laboratorium. Formula juga harus mampu bertahan ketika berhadapan dengan realitas produksi, mulai dari peralatan, parameter proses, pengendalian mutu, hingga tuntutan konsistensi antar-batch. Dari meja laboratorium menuju lantai produksi, sebuah ide berhenti menjadi sekadar formula dan mulai belajar menjadi produk. [][Adrian Damar/LBF]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.