Scientific evidence membantu kita menjawab satu pertanyaan penting dalam pengembangan kosmetik: seberapa kuat dasar ilmiah yang kita miliki untuk mempercayai bahwa suatu bahan, teknologi, formula, atau produk dapat memberikan hasil tertentu?
Tetapi ada satu hal yang sering terlewat.
Scientific evidence bukan sekadar soal “ada jurnalnya”.
Sebuah penelitian bisa menunjukkan bahwa suatu bahan memiliki aktivitas tertentu di laboratorium. Penelitian lain mungkin menunjukkan perubahan pada kulit manusia. Sementara pengujian terhadap produk jadi dapat menjawab pertanyaan yang berbeda lagi.
Semuanya dapat disebut evidence. Tetapi tidak semuanya membuktikan hal yang sama.
Karena itu, pertanyaan yang lebih berguna bukan hanya:
“Apakah ada penelitiannya?”
Melainkan:
“Penelitian ini sebenarnya menunjukkan apa—dan apa yang belum dapat disimpulkan darinya?”
Apa yang dimaksud dengan scientific evidence?
Secara sederhana, scientific evidence adalah bukti yang diperoleh melalui proses penelitian atau pengujian yang dilakukan dengan metode tertentu untuk menjawab suatu pertanyaan.
Dalam kosmetik, pertanyaannya bisa sangat beragam.
Apakah suatu molekul memiliki aktivitas biologis tertentu?
Apakah suatu bahan dapat mencapai bagian kulit yang menjadi targetnya?
Apakah sebuah formula stabil selama penyimpanan?
Apakah penggunaan produk meningkatkan hidrasi kulit?
Apakah perubahan tersebut dapat diukur dengan instrumen?
Atau apakah konsumen merasakan kulitnya lebih lembut setelah menggunakan produk?
Pertanyaan yang berbeda membutuhkan jenis evidence yang berbeda pula.
Inilah sebabnya scientific evidence sebaiknya tidak dibayangkan hanya sebagai tangga sederhana dari evidence “lemah” menuju evidence “kuat”.
Lebih tepat membayangkannya sebagai kotak peralatan.
Mikroskop sangat berguna untuk melihat sesuatu yang sangat kecil. Tetapi kita tidak menggunakan mikroskop untuk mengukur berat.
Begitu pula evidence.
Kekuatan evidence tidak hanya ditentukan oleh jenis studinya, tetapi juga oleh kesesuaiannya dengan pertanyaan yang ingin dijawab.

Apakah penelitian laboratorium berarti sebuah bahan pasti bekerja pada kulit manusia?
Belum tentu.
Penelitian in vitro, misalnya, dilakukan dalam sistem laboratorium seperti kultur sel. Penelitian seperti ini sangat berguna untuk mempelajari mekanisme biologis dan membantu menjawab pertanyaan tentang bagaimana sesuatu mungkin bekerja.
Tetapi kulit manusia jauh lebih kompleks daripada sel yang dipelajari secara terpisah di laboratorium.
Ada skin barrier, metabolisme, kondisi lingkungan, cara pemakaian, konsentrasi bahan, hingga interaksi dengan komponen formula lainnya.
Karena itu:
mekanisme biologis yang masuk akal ≠ manfaat klinis yang sudah terbukti.
Hasil laboratorium bukan berarti tidak penting. Justru penelitian tersebut dapat menjadi bagian penting dari proses memahami suatu bahan.
Yang perlu dijaga adalah seberapa jauh kesimpulan boleh dibawa dari evidence tersebut.
Prinsip serupa berlaku untuk ex vivo studies, pengukuran instrumental pada manusia, evaluasi klinis, maupun studi persepsi konsumen. Masing-masing memiliki pertanyaan, kekuatan, dan keterbatasannya sendiri.
Dalam ilmu pengetahuan, evidence bukan hanya tentang mendapatkan hasil positif. Konteks penelitian menentukan arti dari hasil tersebut.
Kalau ingredient-nya terbukti, apakah produk yang mengandungnya juga otomatis terbukti?
Ini salah satu perbedaan paling penting dalam memahami kosmetik.
Ingredient evidence ≠ formulation evidence ≠ finished-product evidence.
Bayangkan sebuah bahan aktif memiliki penelitian yang menunjukkan efek tertentu pada konsentrasi tertentu.
Kemudian bahan tersebut dimasukkan ke dalam sebuah serum.
Apakah serum itu otomatis akan menghasilkan efek yang sama?
Belum tentu.
Kinerja bahan di dalam produk dapat dipengaruhi oleh banyak hal: konsentrasi yang digunakan, kemurnian bahan, pH formula, sistem pelarut, vehicle, stabilitas, interaksi dengan bahan lain, sistem penghantaran, proses produksi, kemasan, kondisi penyimpanan, hingga cara konsumen menggunakan produk.
Dengan kata lain, bahan yang baik adalah awal yang penting, tetapi bukan akhir dari pengembangan produk.
Ini seperti memiliki bahan makanan berkualitas tinggi.
Bahan yang baik memberi kita potensi untuk membuat hidangan yang baik. Tetapi hasil akhirnya tetap bergantung pada resep, proporsi, teknik pengolahan, penyimpanan, dan banyak faktor lainnya.
Hal yang sama berlaku dalam formulasi kosmetik.
Karena itulah evidence terhadap sebuah ingredient tidak seharusnya langsung diterjemahkan menjadi klaim terhadap setiap produk yang menggunakan ingredient tersebut.

Lalu, apakah semakin banyak penelitian selalu berarti evidence semakin kuat?
Jumlah penelitian penting, tetapi jumlah saja tidak cukup.
Sepuluh penelitian dengan desain yang lemah tidak otomatis lebih meyakinkan daripada beberapa penelitian yang dirancang dengan baik dan benar-benar menjawab pertanyaan yang relevan.
Ketika membaca sebuah penelitian, beberapa pertanyaan menjadi penting:
Apa yang sebenarnya diuji?
Siapa atau apa yang menjadi subjek penelitian?
Berapa konsentrasi yang digunakan?
Apa yang dibandingkan?
Bagaimana hasilnya diukur?
Berapa lama pengujiannya?
Apakah hasil serupa ditemukan dalam penelitian lain?
Apa keterbatasan penelitian tersebut?
Pendekatan seperti ini juga terlihat dalam evaluasi ilmiah kosmetik yang lebih formal. Scientific Committee on Consumer Safety (SCCS) Uni Eropa, misalnya, menekankan pentingnya kajian literatur sistematis dan berbagai pendekatan pengujian dalam evaluasi keamanan bahan kosmetik.
Jadi, membaca scientific evidence bukan perlombaan mengumpulkan sebanyak mungkin jurnal.
Yang dicari adalah seberapa baik kumpulan evidence tersebut menjawab pertanyaan yang sedang kita ajukan.
Bagaimana jika penelitian berasal dari supplier bahan baku?
Supplier bahan kosmetik sering melakukan penelitian untuk memahami karakteristik, mekanisme, keamanan, atau potensi manfaat bahan yang mereka kembangkan.
Data seperti ini tidak otomatis harus ditolak hanya karena berasal dari supplier.
Sebaliknya, data tersebut juga tidak seharusnya diterima begitu saja tanpa melihat bagaimana penelitian dilakukan.
Yang perlu diperiksa antara lain material yang diuji, konsentrasi, desain penelitian, metode pengukuran, kelompok pembanding bila relevan, serta apakah hasil tersebut berasal dari bahan baku, formula uji, atau produk jadi.
Sumber pendanaan dan potensi conflict of interest juga merupakan bagian dari konteks yang perlu diketahui ketika menilai sebuah penelitian.
Dengan demikian, pertanyaannya bukan:
“Apakah supplier boleh menjadi sumber evidence?”
Tetapi:
“Seberapa jauh evidence yang tersedia mendukung kesimpulan yang ingin kita buat?”
Bagaimana seorang formulator membaca scientific evidence?
Di sinilah scientific evidence bertemu dengan realitas formulasi.
Bagi formulator, menemukan penelitian menarik tentang sebuah ingredient belum tentu langsung berarti ingredient tersebut layak masuk ke formula.
Ketika sebuah bahan datang dengan klaim seperti “meningkatkan marker X sebesar 300% secara in vitro”, angka tersebut mungkin terlihat sangat impresif.
Tetapi angka itu baru permulaan.
Seorang formulator perlu melihat lebih jauh: apa sebenarnya yang diukur? Model apa yang digunakan? Pada konsentrasi berapa hasil tersebut diperoleh? Apakah konsentrasi itu realistis digunakan dalam formula? Apakah bahan komersial yang akan digunakan sama dengan material yang diteliti? Bagaimana stabilitasnya? Dan apakah ada evidence lain yang mendukung relevansinya pada manusia?
Dalam praktik formulasi, scientific evidence karena itu tidak berdiri sendiri.
Evidence perlu diterjemahkan menjadi keputusan formulasi.
Di sinilah pengalaman seorang formulator menjadi penting: bukan untuk menggantikan scientific evidence, tetapi untuk memahami apa arti evidence tersebut ketika berhadapan dengan formula yang nyata.
Perspektif ini juga menjadi salah satu wilayah penting dalam praktik formulasi dan pengembangan produk yang dibahas Beautyversity bersama Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm., praktisi formulasi dan pengembangan kosmetik.
Scientific evidence memberi dasar untuk mengambil keputusan. Tetapi keputusan formulasi tetap harus mempertimbangkan bagaimana sebuah bahan berperilaku dalam sistem produk yang sebenarnya.
Scientific evidence juga berkaitan dengan klaim kosmetik
Scientific evidence bukan hanya urusan laboratorium.
Pada akhirnya, evidence juga menentukan seberapa jauh kita boleh mengatakan sesuatu tentang produk.
Di Indonesia, Persyaratan Teknis Klaim Kosmetika diatur melalui Peraturan BPOM Nomor 3 Tahun 2022, yang hingga saat ini tercatat berlaku dalam basis regulasi BPOM.
Dalam kerangka ASEAN Cosmetic Directive, manfaat yang diklaim untuk produk kosmetik pada prinsipnya perlu didukung oleh evidence yang memadai dan/atau oleh formulasi atau preparasi kosmetik itu sendiri. Kerangka ASEAN juga memungkinkan penggunaan protokol atau desain ilmiah yang dapat diterima untuk menghasilkan data teknis maupun klinis, sepanjang desain tersebut dapat dijustifikasi.
Indonesia juga telah memperluas kerangka uji klinik ke kosmetik melalui Peraturan BPOM Nomor 34 Tahun 2025. BPOM menjelaskan bahwa uji klinik bukan persyaratan untuk seluruh notifikasi kosmetik, tetapi pembuktian ilmiah diperlukan untuk klaim tertentu yang memang membutuhkan dukungan tersebut.
Artinya, besar-kecilnya sebuah klaim seharusnya berjalan bersama dengan evidence yang mampu menopangnya.
Jadi, bagaimana sebaiknya kita membaca klaim berbasis sains?
Tidak perlu menjadi peneliti untuk mulai membaca klaim kosmetik dengan lebih kritis.
Kita bisa menggunakan alur sederhana:
KLAIM → PERTANYAAN → EVIDENCE → KETERBATASAN → KESIMPULAN
Jika sebuah produk mengatakan ingredient tertentu dapat meningkatkan hidrasi kulit, misalnya, jangan berhenti pada tulisan “scientifically proven”.
Tanyakan:
Apa yang sebenarnya pernah diuji?
Apakah ingredient-nya atau produk jadinya?
Apakah diuji di laboratorium atau pada manusia?
Berapa konsentrasinya?
Apa yang diukur?
Dan apakah hasil penelitian tersebut memang cukup untuk mendukung klaim yang sedang dibuat?
Cara berpikir seperti ini bukan berarti kita harus mencurigai semua klaim kosmetik.
Tujuannya justru agar kata “science” mempunyai arti.
Scientific evidence adalah jembatan, bukan stempel
Dalam pengembangan kosmetik berbasis sains, scientific evidence seharusnya tidak digunakan sekadar sebagai stempel untuk membuat produk terdengar lebih ilmiah.
Evidence adalah jembatan antara pertanyaan dan keputusan.
Setelah kita memahami masalah yang ingin dijawab, evidence membantu menentukan solusi mana yang memiliki dasar ilmiah untuk dipertimbangkan.
Tetapi perjalanan belum selesai di sana.
Evidence tersebut masih perlu diterjemahkan menjadi product hypothesis, kemudian formula, diuji dan divalidasi, sebelum akhirnya dapat diproduksi secara konsisten.
Karena itu, ketika menemukan kalimat “berdasarkan penelitian” atau “scientifically proven”, mungkin pertanyaan terbaik bukan lagi:
“Ada jurnalnya?”
Tetapi:
“Penelitian itu sebenarnya menunjukkan apa—dan apa yang belum dapat disimpulkan darinya?”
Itulah salah satu titik awal untuk memahami kosmetik melalui sains, bukan sekadar melalui klaim.
Referensi
Scientific Committee on Consumer Safety (SCCS). Notes of Guidance for the Testing of Cosmetic Ingredients and Their Safety Evaluation, 12th Revision. SCCS/1647/22. European Commission, 2023.
ASEAN. ASEAN Cosmetic Directive, khususnya Article 7 mengenai Product Claims.
ASEAN. Appendix III — ASEAN Cosmetic Claim Guideline.
Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. Peraturan BPOM Nomor 3 Tahun 2022 tentang Persyaratan Teknis Klaim Kosmetika.
Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. Peraturan BPOM Nomor 34 Tahun 2025 tentang Perubahan atas Peraturan BPOM Nomor 8 Tahun 2024 tentang Tata Laksana Persetujuan Pelaksanaan Uji Klinik.