Sebelum Membuat Formula: Bagaimana Masalah Konsumen Diubah Menjadi Product Hypothesis?

Lunaray Admin · 11 menit baca
Sebelum Membuat Formula: Bagaimana Masalah Konsumen Diubah Menjadi Product Hypothesis?

Ketika ingin mengembangkan produk kosmetik baru, pertanyaan yang sering muncul pertama kali adalah: ingredient apa yang akan digunakan?

Niacinamide berapa persen? Perlu ceramide? Peptide apa yang sedang menarik? Lebih baik serum, gel, atau cream?

Padahal ada pertanyaan yang seharusnya muncul lebih dulu:

Masalah konsumen apa yang sebenarnya ingin dijawab?

Masalah konsumen juga tidak seharusnya langsung diterjemahkan menjadi formula. Kita perlu memahami apakah masalah tersebut cukup relevan melalui market evidence, lalu menggunakan scientific evidence untuk melihat apa yang sudah diketahui secara ilmiah dan pendekatan apa yang masuk akal untuk diuji.

Dari pertemuan antara problem dan evidence inilah sebuah product hypothesis dapat dibangun.

Dalam artikel ini, Beautyversity menggunakan istilah product hypothesis untuk menggambarkan proposisi awal tentang produk seperti apa yang diperkirakan dapat menjawab masalah konsumen tertentu, berdasarkan market evidence dan scientific evidence, yang kemudian harus diuji melalui formulasi dan validasi.

Sederhananya:

Consumer Problem → Market Evidence → Scientific Evidence → Product Hypothesis → Formulation → Prototype → Validation

Product hypothesis bukan formula. Ia juga bukan bukti bahwa sebuah produk pasti akan bekerja.

Product hypothesis menentukan apa yang perlu dibuktikan oleh produk. Formulasi menentukan bagaimana kita mencoba mewujudkannya.


Mengapa masalah konsumen tidak bisa langsung diterjemahkan menjadi formula?

Bayangkan konsumen mengatakan:

“Saya tidak suka moisturizer yang terasa terlalu berat di kulit.”

Kalimat tersebut penting, tetapi belum merupakan formulation brief.

Apa sebenarnya yang dimaksud dengan “berat”?

Apakah terlalu greasy? Sticky? Sulit diratakan? Lambat menyerap? Atau meninggalkan lapisan yang tidak nyaman setelah aplikasi?

Penelitian terhadap sediaan topikal menunjukkan bahwa sensasi seperti spreadability, stickiness, greasiness, residual coating, dan atribut setelah aplikasi dapat dibedakan dan sebagian berkaitan dengan karakteristik fisik produk seperti rheology dan tactile friction. Komposisi emollient, thickener, dan sistem surfactant juga dapat memengaruhi karakteristik sensorik tersebut.

Artinya, satu kalimat sederhana dari konsumen dapat menyimpan beberapa masalah yang berbeda.

Di sinilah market evidence dibutuhkan.

Menurut Wendra Wilendra, M.MT., consumer insight seharusnya tidak digunakan hanya untuk mencari apa yang sedang populer. Yang lebih penting adalah memahami problem apa yang cukup meaningful untuk dijadikan arah pengembangan produk.

Tren dapat menunjukkan ke mana perhatian pasar bergerak, tetapi tren belum tentu menunjukkan masalah yang perlu diselesaikan. Brand perlu memahami siapa yang mengalami problem, dalam situasi apa problem tersebut terjadi, dan apakah problem itu cukup penting untuk memengaruhi pengalaman atau keputusan konsumen.

Karena itu, marketplace data, consumer reviews, social listening, interview, search behaviour, atau survei bukanlah “resep produk”. Data tersebut membantu mempertajam diagnosis terhadap problem.

Dan diagnosis itu masih harus bertemu dengan science.




Apa peran scientific evidence sebelum membuat formula?

Market evidence membantu kita memahami apa yang dialami atau diinginkan konsumen.

Scientific evidence menjawab pertanyaan yang berbeda:

Apa yang mungkin menjelaskan problem tersebut? Mekanisme apa yang relevan? Pendekatan apa yang secara ilmiah masuk akal? Dan apa yang belum kita ketahui?

Scientific evidence seharusnya tidak digunakan hanya untuk mencari jurnal yang mendukung ingredient yang sudah telanjur ingin digunakan.

Pendekatannya justru dibalik: pahami problem terlebih dahulu, kemudian gunakan evidence untuk mempersempit kemungkinan solusi.

Prinsip yang berdekatan dapat ditemukan dalam pendekatan Quality by Design (QbD). Dalam pharmaceutical development, QbD memulai pengembangan dari karakteristik produk yang ingin dicapai melalui Quality Target Product Profile (QTPP), kemudian mengidentifikasi atribut kualitas, material, dan parameter proses yang dapat memengaruhi produk akhir.

QbD dan QTPP berasal dari kerangka pharmaceutical development. Karena itu, product hypothesis dalam artikel ini tidak sama dengan QTPP. Namun ada pelajaran penting yang dapat diambil: pengembangan produk dapat dimulai dari apa yang ingin dicapai oleh produk, bukan sekadar daftar bahan yang ingin dimasukkan.

Pendekatan QbD juga telah dieksplorasi dalam penelitian formulasi kosmetik, termasuk pengembangan moisturizing cleansing foam.

Prof. Dr. apt. Sriwidodo dari LABCOS, Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran, melihat scientific evidence sebagai dasar untuk membangun scientific rationale. Evidence tidak selalu harus memberikan jawaban akhir sebelum pengembangan dimulai. Yang penting adalah membedakan evidence yang cukup untuk membangun hipotesis dengan evidence yang cukup untuk menarik kesimpulan.

Dengan kata lain:

Scientific evidence tidak otomatis memberikan formula. Evidence membantu menentukan apa yang layak dihipotesiskan.


Apa itu Product Hypothesis?

Dalam framework Beautyversity, product hypothesis adalah proposisi awal tentang produk seperti apa yang diperkirakan dapat menjawab masalah konsumen tertentu, berdasarkan market evidence dan scientific evidence, yang kemudian harus diuji melalui pengembangan dan validasi.

Product hypothesis bukan daftar ingredient, formula final, marketing claim, nama produk, ataupun jaminan bahwa produk akan berhasil.

Ia adalah hipotesis yang dapat diuji.

Secara sederhana, sebuah product hypothesis dapat dibangun melalui lima pertanyaan:

WHO — siapa konsumen yang mengalami problem?

PROBLEM — masalah spesifik apa yang ingin dijawab?

PRODUCT DIRECTION — karakteristik atau pendekatan produk seperti apa yang diperkirakan relevan?

EXPECTED OUTCOME — hasil apa yang ingin dicapai?

SCIENTIFIC RATIONALE — mengapa evidence membuat kita memperkirakan pendekatan tersebut masuk akal?

Bentuk sederhananya:

Untuk [target consumer] yang mengalami [problem], kita menghipotesiskan bahwa produk dengan [characteristics/approach] dapat memberikan [expected outcome], berdasarkan [market dan scientific rationale].

Framework ini digunakan Beautyversity sebagai reasoning layer antara problem dan keputusan formulasi. Ia bukan template resmi BPOM, ICH, atau standar regulatori kosmetik.


Contoh: dari “moisturizer terasa berat” menjadi Product Hypothesis

Kita kembali ke masalah awal:

“Moisturizer saya terasa terlalu berat.”

Cara tercepat adalah langsung mengatakan:

“Kalau begitu bikin gel cream dengan niacinamide 5%.”

Tetapi kita belum memiliki dasar yang cukup untuk mengambil keputusan tersebut.

Pertama, market evidence membantu mempertajam problem.

Apakah konsumen sebenarnya keberatan terhadap greasiness? Stickiness? Residue? Absorption? Atau kombinasi beberapa atribut?

Kemudian scientific evidence digunakan untuk memahami hubungan antara karakteristik fisik formulasi, sensory properties, hidrasi kulit, dan target performa yang ingin dipertahankan.

Penelitian menunjukkan bahwa rheological properties dapat berkaitan dengan sensory attributes pada fase aplikasi, sementara tactile friction dapat membantu menjelaskan beberapa karakteristik after-feel.

Dari sini kita dapat membangun working hypothesis:

Moisturizer dengan sensorial yang lebih ringan dan residue rendah, tetapi tetap mencapai target hydration dan barrier support yang ditetapkan, mungkin lebih relevan bagi kelompok pengguna tersebut.

Perhatikan apa yang belum ada di dalam hypothesis tersebut.

Belum ada niacinamide. Belum ada ceramide. Belum ada keputusan gel atau cream. Belum ada persentase ingredient.

Karena pada tahap ini kita baru menentukan apa yang ingin diwujudkan dan diuji oleh produk.

Barulah formulator mulai bertanya:

Bagaimana karakteristik tersebut dapat diwujudkan dalam sebuah formula?


Bagaimana Product Hypothesis diterjemahkan menjadi formula?

Di sinilah product direction bertemu dengan formulation science.

Target seperti “lebih ringan”, “residue rendah”, dan “tetap memberikan hidrasi” perlu diterjemahkan menjadi parameter teknis yang dapat dirancang, diukur, dan diuji.

Literatur QbD untuk topical semisolid products menunjukkan bahwa rheological behaviour, pH, physical and chemical stability, microbial quality, serta material dan process parameters dapat menjadi bagian penting dari perancangan kualitas produk.

Namun formulasi nyata jauh lebih kompleks daripada memilih satu parameter.

Berdasarkan pengalaman lebih dari 25 tahun dalam formulasi kosmetik industri, apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm. melihat bahwa sebuah konsep yang secara ilmiah menarik belum tentu dapat langsung diwujudkan seperti yang dibayangkan di awal.

Pemilihan bahan dapat memengaruhi sensorial, tetapi pada saat yang sama formulator harus mempertimbangkan kompatibilitas antar-bahan, pH, preservative system, stabilitas, proses produksi, kemasan, hingga perubahan yang mungkin muncul ketika formula di-scale-up dari laboratorium ke produksi.

Karena itu, pertanyaan formulator bukan hanya:

“Ingredient apa yang dapat memberikan manfaat ini?”

Tetapi juga:

“Apakah keseluruhan sistem formulanya dapat menghasilkan karakteristik yang kita inginkan secara stabil, aman, konsisten, dan dapat diproduksi?”

Paper ilmiah dapat menjelaskan bagaimana suatu material atau sistem bekerja dalam kondisi penelitian tertentu. Pengembangan produk industri harus menghadapi banyak variabel tersebut secara bersamaan.

Di sinilah product hypothesis mulai diterjemahkan menjadi technical requirements, kemudian menjadi formula.


Mengapa evidence sebuah ingredient belum membuktikan finished product?

Ini salah satu perbedaan penting dalam membaca scientific evidence kosmetik.

Misalnya sebuah penelitian menunjukkan bahwa ingredient tertentu mempunyai aktivitas biologis secara in vitro.

Kesimpulan yang dapat dibuat harus mengikuti apa yang benar-benar diuji.

Temuan tersebut tidak otomatis berarti:

“Produk yang mengandung ingredient tersebut terbukti memberikan manfaat yang sama pada manusia.”

Prinsip pembuktian klaim kosmetik juga menuntut hubungan yang dapat dipertanggungjawabkan antara evidence dan klaim finished product. Di Indonesia, hal ini antara lain diatur melalui Peraturan BPOM Nomor 3 Tahun 2022 tentang Persyaratan Teknis Klaim Kosmetika.

Contoh menarik dapat dilihat pada penelitian yang melibatkan Prof. Sriwidodo dan apt. Cahya Khairani Kusumawulan bersama tim peneliti lain mengenai facial serum yang mengandung Sacha Inchi oil.

Penelitian tersebut tidak berhenti pada karakteristik ingredient. Formula dievaluasi melalui parameter fisik dan stabilitas, aktivitas in vitro terhadap elastase dan collagenase, serta skin irritation assessment pada manusia.

Namun batas evidence-nya tetap harus dibaca dengan tepat.

Aktivitas yang berkaitan dengan anti-aging pada penelitian tersebut diuji in vitro, sedangkan pengujian pada manusia berkaitan dengan iritasi kulit. Karena itu, hasil tersebut tidak sama dengan bukti clinical anti-aging efficacy pada manusia.

Inilah mengapa penting membedakan:

Ingredient Evidence ≠ Formulation Evidence ≠ Finished-Product Evidence

Prof. Sriwidodo menekankan bahwa evidence perlu dibaca sesuai dengan pertanyaan yang memang dijawab oleh metode penelitian. Hasil in vitro dapat memberikan informasi mekanistik atau menunjukkan potensi aktivitas, tetapi belum otomatis menjawab apa yang akan terjadi pada manusia ketika ingredient tersebut berada dalam finished formulation.

Dari sisi formulasi, Bu Cahya melihat lapisan lain yang sama pentingnya. Vehicle, konsentrasi, interaksi antar-bahan, stabilitas, proses produksi, dan cara penggunaan dapat memengaruhi bagaimana sebuah ingredient akhirnya hadir dalam finished product.

Artinya:

Scientific rationale dapat menjadi alasan untuk mengembangkan produk. Finished product tetap membutuhkan evidence yang sesuai dengan manfaat atau klaim yang ingin dibuktikan.


Product Hypothesis harus diuji, bukan dipercaya

Inilah alasan kita menyebutnya hypothesis.

Prototype tidak dibuat untuk membuktikan bahwa tim pengembangan sejak awal pasti benar.

Prototype dibuat untuk menguji apakah reasoning awal bertahan ketika bertemu kenyataan.

Kembali ke moisturizer tadi.

Jika formulanya:

stabil ✓
target hydration tercapai ✓
tetapi konsumen masih merasa terlalu greasy ✕

formula mungkin memenuhi sebagian technical requirements, tetapi original consumer problem belum terselesaikan.

Sebaliknya:

sensorial disukai ✓
tetapi stability gagal ✕

arah produknya mungkin relevan, tetapi formulation execution belum memadai.

Dalam pengembangan berbasis QbD, pengetahuan mengenai hubungan material attributes, process parameters, dan quality attributes juga dibangun melalui risk assessment, experimentation, dan proses pengembangan—bukan sekadar menguji produk setelah semuanya selesai.

Dari perspektif ilmiah, Prof. Sriwidodo melihat hasil yang tidak mendukung hypothesis bukan semata-mata sebagai kegagalan. Hasil tersebut dapat menunjukkan bahwa asumsi awal perlu direvisi, ada variabel yang belum dipahami, atau evidence awal belum cukup menjelaskan sistem yang sedang dikembangkan.

Pengalaman formulasi industri memberi perspektif yang sangat praktis terhadap proses yang sama. Menurut Bu Cahya, prototype yang gagal memenuhi target tidak selalu berarti satu ingredient harus diganti. Masalahnya bisa berada pada sistem formula, proses produksi, technical requirement, atau bahkan pada target produk yang ditetapkan sejak awal.

Dengan demikian, product development menjadi proses belajar:

Hypothesize → Build → Test → Learn → Refine


Jadi, kapan sebaiknya formula mulai dibuat?

Formula mulai mempunyai arah ketika tim pengembangan sudah cukup memahami:

Problem — masalah apa yang ingin dijawab?

Consumer — untuk siapa?

Market Evidence — mengapa problem tersebut relevan?

Scientific Evidence — mengapa pendekatan tertentu masuk akal?

Product Hypothesis — produk seperti apa yang diperkirakan dapat menjawabnya?

Target Characteristics — karakteristik apa yang harus dimiliki produk?

Validation — bagaimana kita mengetahui apakah hypothesis tersebut didukung atau perlu direvisi?

Barulah ingredient, delivery system, rheology, manufacturing process, dan keputusan formulasi lainnya mempunyai konteks.

Karena itu, Cosmetic by Science bukan sekadar menggunakan ingredient yang terdengar scientific.

Ia adalah cara berpikir yang menggunakan problem, evidence, hypothesis, experimentation, dan validation sejak sebelum formula dibuat.

Product hypothesis menentukan apa yang perlu dibuktikan oleh produk. Formulation menentukan bagaimana kita mencoba mewujudkannya. Validation membantu kita mengetahui apakah jawaban yang kita ajukan sejak awal memang didukung oleh hasil pengujian.

Setelah product hypothesis terbentuk, pertanyaan berikutnya adalah:

Bagaimana Product Hypothesis diterjemahkan menjadi formulation brief dan technical requirements yang benar-benar dapat dikembangkan di laboratorium?

Itulah tahap berikutnya dalam perjalanan dari consumer problem menuju produk yang dapat diuji.


Referensi

  1. Namjoshi S, Dabbaghi M, Roberts MS, Grice JE, Mohammed Y. Quality by Design: Development of the Quality Target Product Profile (QTPP) for Semisolid Topical Products. Pharmaceutics. 2020;12(3):287. doi:10.3390/pharmaceutics12030287.

  2. Chang RK, Raw A, Lionberger R, Yu L. Generic Development of Topical Dermatologic Products, Part II: Quality by Design for Topical Semisolid Products. The AAPS Journal.

  3. Ali A, et al. Relationship between sensorial and physical characteristics of topical creams: A comparative study on effects of excipients. International Journal of Pharmaceutics. 2022;613:121370.

  4. Prediction of Tactile Sensory Attributes of Facial Moisturizers by Rheology and Tribology. Biotribology. 2021;28:100201.

  5. Maya I, Sriwidodo S, Mita SR, Kusumawulan CK, et al. Formulation and Evaluation of Facial Serum Containing Sacha Inchi Oil (Plukenetia volubilis L.) from Indonesia as an Anti-Aging: Stability, In Vitro, and Skin Irritation Assessments. Cosmetics. 2024;11(6):226. doi:10.3390/cosmetics11060226.

  6. Shiba K, Nursifa H, Kusumawulan CK, Sopyan I. Uji Efektivitas In Vivo dan In Vitro Anti-Aging pada Sediaan Kosmetik. Farmaka. 2022;20(3).

  7. Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. Peraturan BPOM Nomor 3 Tahun 2022 tentang Persyaratan Teknis Klaim Kosmetika.


Penulis: Beautyversity Editorial Team

Kontributor pengetahuan:
Wendra Wilendra, M.MT. — consumer insight, market evidence, dan product strategy
Prof. Dr. apt. Sriwidodo — LABCOS, Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran — scientific evidence dan translational product development
apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm. — cosmetic formulation dan industrial product development

Share
Ditulis oleh Lunaray Admin

Tim Lunaray Beauty Factory — menghubungkan science, research, dan manufacturing untuk pengembangan produk kosmetik yang lebih baik.