Dysbiosis pada Kulit: Apa Artinya dan Apa yang Tidak Boleh Disimpulkan?

beautyveristy01 · 9 menit baca
Dysbiosis pada Kulit: Apa Artinya dan Apa yang Tidak Boleh Disimpulkan?


Di BeautéSpot, Cosmobeauté Indonesia 2026, diskusi mengenai skin microbiome tidak berhenti pada pertanyaan tentang mikroorganisme apa yang hidup di kulit. Salah satu konsep yang paling sering muncul—dan sekaligus paling sering disederhanakan—adalah dysbiosis.

Istilah ini kerap dipakai seolah artinya sangat sederhana:

bakteri baik berkurang, bakteri jahat bertambah.

Padahal secara ilmiah, dysbiosis jauh lebih kompleks.

Dalam kerangka yang dibawa Prof. Dr. apt. Keri Lestari, M.Si., microbiome merupakan bagian dari skin ecosystem yang terus berinteraksi dengan barrier, pH, sebum, hydration, immune response, host biology, dan environment.

Artinya, perubahan microbial community tidak bisa dibaca terpisah dari sistem biologis tempat perubahan itu terjadi.

Diskusi bersama apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm., partner penelitian dan hilirisasi sekaligus pakar kosmetik dan industri, membawa konsep ini ke pertanyaan yang sangat relevan bagi skincare:

Jika suatu produk mengubah microbiome, kapan perubahan itu benar-benar dapat disebut memperbaiki dysbiosis?

Jawabannya tidak sesederhana melihat jumlah bakteri sebelum dan sesudah penggunaan produk.




Apa sebenarnya arti dysbiosis?

Secara umum, dysbiosis digunakan untuk menggambarkan perubahan microbial ecosystem yang berasosiasi dengan gangguan fungsi atau kondisi tertentu.

Kata kuncinya adalah ecosystem, bukan satu microorganism.

Dysbiosis dapat melibatkan perubahan pada:

  • komposisi microbial community,
  • relative abundance,
  • interaksi antarorganisme,
  • microbial function,
  • metabolite,
  • atau hubungan microbiome dengan host.

Karena itu, dysbiosis bukan hanya soal:

mikroorganisme A naik
atau
mikroorganisme B turun.

Yang jauh lebih penting adalah:

apa arti perubahan tersebut bagi fungsi ekosistem dan kondisi kulit?


Mengapa konsep “good bacteria vs bad bacteria” terlalu sederhana?

Karena mikroorganisme tidak selalu mempunyai peran yang sama dalam semua situasi.

Satu microorganism dapat menjadi bagian normal dari healthy skin microbiome, tetapi menunjukkan association berbeda pada kondisi tertentu.

Contoh klasiknya adalah Cutibacterium acnes.

C. acnes sering diasosiasikan dengan acne.

Tetapi keberadaannya sendiri bukan sesuatu yang abnormal.

Bakteri ini juga ditemukan pada kulit sehat, terutama pada sebaceous sites.

Penelitian seperti Fitz-Gibbon dan kolega menunjukkan bahwa perbedaan antara acne dan healthy skin tidak sekadar ditentukan oleh ada atau tidak adanya C. acnes, tetapi juga oleh strain-level differences.

Artinya, pertanyaan ilmiahnya bukan hanya:

“Apakah C. acnes ada?”

melainkan:

“Strain apa yang ada, dalam ecological context seperti apa, dan bagaimana interaksinya dengan host?”

Ini adalah contoh mengapa label baik dan jahat sering terlalu reduktif untuk microbiome science.


Apakah perubahan microbiome otomatis berarti dysbiosis?

Tidak.

Skin microbiome secara alami berubah.

Perubahan dapat terjadi akibat:

  • cleansing,
  • skincare,
  • humidity,
  • temperature,
  • environment,
  • antibiotic exposure,
  • perubahan hormone,
  • perubahan barrier,
  • age,
  • dan lifestyle.

Banyak perubahan tersebut dapat bersifat:

  • sementara,
  • adaptive,
  • reversible,
  • atau bahkan tidak mempunyai biological consequence yang berarti.

Karena itu:

microbiome change ≠ dysbiosis

Untuk menyebut suatu perubahan sebagai dysbiosis, diperlukan konteks mengenai fungsi, host condition, dan outcome.




Apakah diversity yang rendah berarti dysbiosis?

Tidak selalu.

Ini juga salah satu simplifikasi yang sering muncul.

Dalam beberapa kondisi, penurunan microbial diversity memang dapat ditemukan.

Tetapi diversity bukan universal health score.

Kulit pada body site yang berbeda secara alami mempunyai ecological structure yang berbeda.

Sebaceous sites, moist sites, dan dry sites dapat menunjukkan diversity pattern yang tidak sama.

Jadi angka diversity hanya mempunyai arti jika dibaca bersama:

  • lokasi,
  • composition,
  • function,
  • clinical context,
  • dan baseline.

Higher diversity tidak otomatis berarti healthier.

Lower diversity tidak otomatis berarti dysbiosis.


Kalau begitu, bagaimana dysbiosis seharusnya dibaca?

Lebih tepat jika dysbiosis dilihat sebagai perubahan hubungan dalam ekosistem, bukan sekadar perubahan jumlah mikroorganisme.

Beberapa pertanyaan yang lebih berguna adalah:

  • apakah microbial community berubah secara konsisten?
  • apakah ada loss atau gain of function?
  • apakah barrier ikut berubah?
  • apakah immune response berubah?
  • apakah ada measurable skin outcome?
  • apakah perubahan tersebut berhubungan dengan kondisi tertentu?
  • apakah perubahan itu penyebab atau konsekuensi?

Di sinilah interpretasi menjadi lebih penting daripada sekadar measurement.




Cause, consequence, amplifier, atau marker?

Ketika dysbiosis ditemukan pada suatu kondisi kulit, setidaknya ada empat kemungkinan hubungan.

1. Cause

Perubahan microbiome ikut memicu perkembangan kondisi tersebut.

2. Consequence

Perubahan microbiome terjadi karena barrier, inflammation, atau skin environment sudah berubah lebih dulu.

3. Amplifier

Microbial shift bukan penyebab awal, tetapi dapat memperburuk atau mempertahankan kondisi yang sudah terjadi.

4. Marker

Microbiome berubah bersamaan dengan kondisi tersebut, tetapi belum tentu mempunyai peran kausal langsung.

Empat kemungkinan ini penting karena studi association saja biasanya belum cukup untuk menentukan mana yang benar.


Apa contoh paling jelas dari hubungan microbiome dan kondisi kulit?

Atopic dermatitis

Atopic dermatitis adalah salah satu kondisi yang paling sering digunakan untuk mempelajari dysbiosis.

Sejumlah studi menunjukkan bahwa flare atopic dermatitis sering berkaitan dengan perubahan microbial community dan peningkatan dominasi Staphylococcus aureus.

Namun hubungan tersebut tidak berdiri sendiri.

Atopic dermatitis juga melibatkan:

  • barrier dysfunction,
  • immune dysregulation,
  • genetic susceptibility,
  • inflammation,
  • dan environmental factors.

Karena itu peningkatan S. aureus tidak boleh langsung ditafsirkan sebagai satu-satunya penyebab.

Perubahan barrier dapat mengubah microbial habitat.

Inflammation dapat mengubah environment kulit.

Microbial changes kemudian dapat ikut memperkuat sistem tersebut.

Hubungannya lebih menyerupai feedback loop daripada sebab tunggal.


Bagaimana dengan acne?

Pada acne, situasinya juga tidak sederhana.

C. acnes merupakan bagian normal dari skin microbiome.

Jadi presence saja tidak cukup.

Research menunjukkan adanya perbedaan pada strain populations dan functional characteristics antara skin dengan acne dan healthy skin.

Selain itu, acne juga melibatkan:

  • increased sebum production,
  • follicular hyperkeratinization,
  • inflammation,
  • host response,
  • dan sebaceous microenvironment.

Jadi konsep:

“acne = terlalu banyak C. acnes”

terlalu sederhana.

Pertanyaannya lebih luas:

Apa yang berubah pada ecosystem sebaceous follicle, dan bagaimana microbial community berinteraksi dengan perubahan tersebut?


Apakah skincare bisa menyebabkan dysbiosis?

Secara teoritis, skincare dapat memengaruhi microbial environment.

Tetapi mengatakan bahwa skincare tertentu “menyebabkan dysbiosis” membutuhkan evidence.

Produk dapat memengaruhi:

  • pH,
  • hydration,
  • lipid environment,
  • cleansing intensity,
  • antimicrobial exposure,
  • occlusion,
  • dan barrier condition.

Namun perubahan setelah penggunaan produk belum otomatis berarti harmful dysbiosis.

Misalnya cleanser dapat mengurangi microbial load secara sementara.

Setelah beberapa waktu, community dapat pulih.

Karena itu, penilaian seharusnya melihat:

magnitude

  • duration
  • recovery
  • functional consequence
  • skin outcome

Apakah preservative bisa menyebabkan dysbiosis?

Tidak dapat digeneralisasi.

Preservatives diperlukan untuk menjaga cosmetic product dari microbial contamination.

Tanpa adequate preservation, formula sendiri dapat menjadi sumber risiko.

Karena preservatives mempunyai antimicrobial properties, interaksinya dengan skin microbiome memang dapat diteliti.

Tetapi hasilnya bergantung pada:

  • jenis preservative,
  • concentration,
  • formulation system,
  • exposure,
  • frequency of use,
  • dan finished-product behaviour.

Jadi dua pernyataan berikut sama-sama terlalu absolut:

“Preservative merusak microbiome.”

dan

“Preservative tidak pernah memengaruhi microbiome.”

Interpretasi harus berdasarkan data pada formula yang relevan.


Di sinilah perspective formulation menjadi penting

Dalam cosmetic development, konsep dysbiosis tidak boleh diterjemahkan menjadi formula berdasarkan satu ingredient story.

Misalnya sebuah ingredient menunjukkan antimicrobial activity terhadap satu microorganism.

Itu belum cukup untuk menyatakan bahwa ingredient tersebut “memperbaiki microbiome”.

Masih harus ditanyakan:

  • apakah microorganism tersebut memang target yang relevan?
  • apakah activity-nya terlalu luas?
  • apakah microbial community lain ikut berubah?
  • apakah barrier tetap baik?
  • apakah pH sesuai?
  • apakah finished formula tetap stabil?
  • apakah perubahan microbial menghasilkan skin benefit yang terukur?

Dari perspektif formulasi dan hilirisasi yang dibawa Bu Cahya, biological concept harus tetap masuk akal setelah menjadi product system.


Mengapa ingredient evidence tidak cukup?

Karena ingredient dan finished product bukan sistem yang sama.

Sebuah raw material bisa mempunyai data:

  • antimicrobial,
  • prebiotic-like,
  • postbiotic-related,
  • atau microbial modulation.

Tetapi setelah masuk formula, ia berinteraksi dengan:

  • surfactant,
  • emulsifier,
  • preservative,
  • solvent,
  • humectant,
  • pH,
  • packaging,
  • processing,
  • dan storage.

Karena itu:

ingredient evidence tidak otomatis membuktikan bahwa finished product memperbaiki dysbiosis.

Claim pada finished product membutuhkan evidence yang relevan terhadap finished product.


Apakah “microbiome balancing” berarti memperbaiki dysbiosis?

Belum tentu.

Istilah balance sering terdengar intuitif, tetapi secara ilmiah sangat sulit didefinisikan.

Balance dibandingkan dengan apa?

Baseline siapa?

Body site mana?

Berapa lama?

Apakah yang berubah composition atau function?

Apakah perubahan itu beneficial?

Tanpa jawaban terhadap pertanyaan tersebut, “microbiome balancing” bisa menjadi marketing language yang lebih luas daripada evidence-nya.


Evidence seperti apa yang lebih kuat untuk dysbiosis?

Evidence yang lebih bermakna idealnya tidak hanya menunjukkan microbial change.

Ia juga mencoba menghubungkan perubahan tersebut dengan fungsi.

Misalnya:

Microbial composition
↓
Functional change
↓
Barrier / immune relevance
↓
Measurable skin outcome

Skin outcome dapat berupa parameter seperti:

  • TEWL,
  • hydration,
  • erythema,
  • barrier markers,
  • atau endpoint yang relevan dengan kondisi yang dipelajari.

Dengan begitu, microbiome tidak hanya menjadi angka dari sequencing data, tetapi dikaitkan dengan biological meaning.


Apa yang sudah cukup kita ketahui tentang dysbiosis?

Dysbiosis bukan sekadar good bacteria turun dan bad bacteria naik

Evidence: established ecological principle

Microbial function dan context lebih penting daripada label sederhana.

Microbiome berubah pada beberapa skin conditions

Evidence: established association

Termasuk pada atopic dermatitis dan acne.

Association tidak otomatis berarti causation

Evidence: fundamental research principle

Perubahan dapat menjadi cause, consequence, amplifier, atau marker.

Barrier dan microbiome saling memengaruhi

Evidence: established + mechanistic

Perubahan pada satu bagian ecosystem dapat memengaruhi bagian lain.

Tidak setiap microbial change berarti dysbiosis

Evidence: established

Microbiome secara alami bersifat dinamis.


Apa yang belum boleh disimpulkan terlalu cepat?

Kita belum bisa mengatakan bahwa:

  • setiap penurunan diversity adalah dysbiosis;
  • satu microorganism tertentu selalu “buruk”;
  • microbial shift otomatis menjadi penyebab penyakit;
  • perubahan microbiome setelah skincare otomatis berarti kerusakan;
  • ingredient antimicrobial otomatis memperbaiki dysbiosis;
  • satu microbial profile dapat digunakan sebagai universal healthy baseline;
  • “microbiome balancing” otomatis merupakan claim yang scientifically meaningful.

Jadi, apa arti dysbiosis pada kulit?

Dysbiosis lebih tepat dipahami sebagai perubahan microbial ecosystem yang dikaitkan dengan perubahan fungsi atau kondisi biologis tertentu—bukan hanya perubahan jumlah satu jenis bakteri.

Untuk memahami artinya, kita harus melihat:

Microbial Community
×
Skin Barrier
×
Host Biology
×
Immune Response
×
Environment

Baru setelah itu kita dapat bertanya apakah perubahan tersebut:

cause,
consequence,
amplifier,
atau hanya marker.

Itulah mengapa istilah dysbiosis perlu digunakan secara hati-hati.

Dalam skin microbiome science, perubahan bukan otomatis gangguan.

Dan gangguan tidak dapat dipahami hanya dengan melihat microorganism secara terpisah dari kulit tempat ia hidup.


References

Fitz-Gibbon S, Tomida S, Chiu BH, et al. Propionibacterium acnes Strain Populations in the Human Skin Microbiome Associated with Acne. Journal of Investigative Dermatology. 2013;133(9):2152-2160. DOI: 10.1038/jid.2013.21.

Kong HH, Oh J, Deming C, et al. Temporal Shifts in the Skin Microbiome Associated with Disease Flares and Treatment in Children with Atopic Dermatitis. Genome Research. 2012;22(5):850-859.

Byrd AL, Belkaid Y, Segre JA. The Human Skin Microbiome. Nature Reviews Microbiology. 2018;16:143-155. DOI: 10.1038/nrmicro.2017.157.

Chen YE, Fischbach MA, Belkaid Y. Skin Microbiota-Host Interactions. Nature. 2018;553:427-436. DOI: 10.1038/nature25177.

Joos R, et al. Examining the Healthy Human Microbiome Concept. Nature Reviews Microbiology. 2025;23:192-205. DOI: 10.1038/s41579-024-01107-0.

Share
Ditulis oleh beautyveristy01

Tim Lunaray Beauty Factory — menghubungkan science, research, dan manufacturing untuk pengembangan produk kosmetik yang lebih baik.