Minyak ikan mungkin lebih dikenal sebagai sumber nutrisi daripada sebagai bahan kosmetik. Namun dari perspektif cosmetic science, minyak ikan menarik karena mengandung berbagai fatty acids, termasuk omega-3 seperti EPA (eicosapentaenoic acid) dan DHA (docosahexaenoic acid), serta komponen lipid lain yang secara biologis relevan terhadap fungsi kulit.
Pertanyaannya bukan sekadar apakah omega-3 “baik untuk kulit”.
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
Apakah fish oil dapat diterjemahkan menjadi cosmetic ingredient yang stabil, aman, dapat diformulasikan, dan memiliki evidence yang relevan pada finished product?
Pertanyaan ini menjadi pusat riset yang dikembangkan oleh Prof. Dr. Sugeng Heri Suseno, S.Pi., M.Si., Guru Besar di Departemen Teknologi Hasil Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, IPB University, bersama Kamini, M.Si. dan tim. Prof. Sugeng memang memiliki fokus riset pada teknologi pengolahan minyak ikan, ekstraksi, pemurnian, karakterisasi omega-3, dan pemanfaatan sumber daya perairan bernilai tambah. THP IPB
Dalam proyek terapan 2026 yang menjadi dasar artikel ini, tim meneliti pengembangan minyak ikan fungsional sebagai bahan bernilai tinggi untuk inovasi kosmetika modern. Prof. Sugeng tercatat sebagai ketua penelitian dari FPIK IPB University, dengan Kamini sebagai anggota tim penelitian. PPT Kosmetik minyak ikan patin
Ketika riset tersebut bergerak menuju cosmetic formulation dan hilirisasi, apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm. berperan pada sisi penerjemahan bahan aktif ke dalam formulation dan product-development reality.
Di sinilah topiknya menjadi jauh lebih menarik daripada sekadar “fish oil untuk skincare”.
Apa sebenarnya yang membuat minyak ikan menarik untuk kulit?
Secara kimia, fish oil adalah campuran lipid.
Komposisinya dapat mencakup:
- saturated fatty acids atau SFA;
- monounsaturated fatty acids atau MUFA;
- polyunsaturated fatty acids atau PUFA;
- serta omega-3 fatty acids seperti EPA dan DHA.
Dua nama terakhir sering menjadi pusat perhatian karena EPA dan DHA mempunyai berbagai biological functions yang telah banyak diteliti dalam nutritional dan biomedical science.
Namun ada satu batas penting:
Evidence dari konsumsi omega-3 tidak boleh otomatis dianggap sebagai evidence penggunaan topikal pada skincare.
Oral intake dan topical application mempunyai route, exposure, metabolism, concentration, dan biological environment yang berbeda.
Karena itu ketika fish oil dipertimbangkan sebagai cosmetic ingredient, pertanyaannya harus kembali ke kulit dan formula.
Apa peran lipid pada skin barrier?
Untuk memahami potensi fish oil, kita perlu memahami bahwa skin barrier bukan hanya lapisan sel.
Bagian terluar epidermis, terutama stratum corneum, mempunyai struktur lipid yang sangat penting untuk mempertahankan fungsi barrier dan mengurangi kehilangan air.
Lipid pada kulit berperan dalam:
- membentuk organisasi barrier;
- mengurangi transepidermal water loss atau TEWL;
- menjaga fleksibilitas permukaan kulit;
- dan memengaruhi respons biologis tertentu.
Karena itu berbagai oils sudah lama digunakan dalam skincare sebagai:
- emollient;
- skin-conditioning agent;
- carrier;
- dan bagian dari lipid phase dalam formulation.
Tetapi tidak semua oils identik.
Fatty-acid profile sangat memengaruhi sifat bahan tersebut.
Lalu apa yang membuat omega-3 berbeda?
Omega-3 polyunsaturated fatty acids mempunyai lebih dari satu double bond dalam struktur kimianya.
EPA dan DHA adalah long-chain omega-3 fatty acids yang banyak dikaitkan dengan regulation of inflammatory pathways.
Review mengenai fatty acids dan skin biology menunjukkan bahwa EPA dan DHA memiliki biological activity yang berhubungan dengan inflammatory signaling dan response terhadap UV-induced damage. Beberapa penelitian topical dan mechanistic juga menunjukkan bahwa EPA atau DHA dapat memengaruhi pathways seperti cytokine signaling, oxidative stress response, dan matrix-degrading enzymes. Frontiers
Tetapi ini tidak berarti:
semua produk yang mengandung fish oil otomatis mempunyai anti-inflammatory atau anti-aging efficacy.
Kita harus tetap melihat bentuk ingredient, concentration, formula, stability, dan jenis study yang digunakan.
Seberapa kuat evidence topical EPA dan DHA?
Ada evidence yang mendukung biological relevance, tetapi belum cukup untuk digeneralisasi ke semua cosmetic fish oil products.
Beberapa studi manusia pada topical EPA menunjukkan perubahan pada markers yang berkaitan dengan UV-induced skin aging dan collagen-related pathways. Tetapi penelitian tersebut umumnya menggunakan bahan atau concentration tertentu dalam experimental setting, bukan sembarang finished cosmetic product. Frontiers
Jadi hierarchy evidence-nya perlu dipisahkan.
Mechanistic evidence
Cukup kuat bahwa EPA dan DHA dapat berinteraksi dengan pathways yang relevan terhadap inflammation, oxidative stress, dan UV response.
Human topical evidence
Ada, tetapi masih lebih terbatas dibanding literature nutritional omega-3.
Finished-product evidence
Harus dinilai per formula.
Ini penting karena ingredient yang menunjukkan activity dalam experimental system belum tentu menghasilkan outcome yang sama setelah melewati:
extraction → purification → storage → formulation → manufacturing → shelf life → skin application.
Apakah fish oil dapat membantu skin barrier?
Secara biologis, fatty acids memang sangat relevan terhadap barrier physiology.
Namun kita perlu hati-hati membedakan:
“fatty acids penting untuk barrier”
dengan
“fish oil tertentu terbukti memperbaiki barrier ketika digunakan secara topikal.”
Kedua pernyataan itu tidak sama.
Literature menunjukkan bahwa deficiency beberapa essential fatty acids dapat berkaitan dengan impaired barrier dan peningkatan water loss. Beberapa fatty acids juga dapat memengaruhi inflammatory signaling dan lipid environment kulit. Frontiers
Tetapi fish oil bukan satu fatty acid tunggal.
Ia merupakan campuran kompleks yang komposisinya bergantung pada:
- species;
- bagian tubuh ikan;
- diet;
- metode extraction;
- purification;
- storage;
- dan oxidation history.
Karena itu efek dari satu purified fatty acid tidak boleh otomatis disamakan dengan efek seluruh fish oil.

Mengapa sumber ikan sangat penting?
Ini salah satu bagian paling penting dari riset Prof. Sugeng dan Kamini.
Tidak semua fish oils mempunyai composition yang sama.
Dalam penelitian 2026, tim membandingkan beberapa sumber:
- patin;
- nila;
- tuna;
- makarel.
Minyak ikan patin diperoleh melalui wet rendering, sedangkan minyak nila, tuna, dan makarel pada materi penelitian diperoleh melalui proses pemurnian. PPT Kosmetik minyak ikan patin
Kemudian masing-masing dianalisis untuk melihat quality parameters dan fatty-acid profile.
Ini menunjukkan bahwa pertanyaan yang benar bukan:
“Apakah fish oil bagus?”
tetapi:
“Fish oil yang mana, dengan karakteristik seperti apa?”
Apakah minyak dengan omega-3 tertinggi otomatis paling baik untuk skincare?
Tidak.
Data riset tersebut justru memberikan contoh menarik.
Dalam fatty-acid profiling:
- patin: total omega-3 8,17%;
- nila: 1,85%;
- tuna: 32,35%;
- makarel: 39,06%. PPT Kosmetik minyak ikan patin
Jika keputusan hanya didasarkan pada “omega-3 paling tinggi”, makarel akan tampak paling menarik.
Tetapi penelitian tidak berhenti di sana.
Tim juga mengevaluasi:
- free fatty acid / FFA;
- peroxide value / PV;
- p-anisidine value / p-AnV;
- TOTOX;
- serta stability dan karakteristik keseluruhan.
Berdasarkan kombinasi faktor tersebut, minyak ikan patin dipilih untuk tahap penelitian selanjutnya. PPT Kosmetik minyak ikan patin
Ini memberi pelajaran penting dalam cosmetic science:
Ingredient quality tidak dapat dinilai hanya dari satu angka yang terdengar paling menarik.
Composition, oxidation, stability, sensory profile, formulation compatibility, dan tujuan produk semuanya perlu dibaca bersama.
Apa itu FFA, PV, p-AnV, dan TOTOX?
Empat parameter ini sangat penting ketika menilai quality fish oil.
FFA — Free Fatty Acids
FFA menunjukkan jumlah fatty acids yang sudah terlepas dari struktur triglyceride.
Nilai ini dapat meningkat akibat hydrolysis dan dapat memberi informasi mengenai quality dan processing history suatu oil.
PV — Peroxide Value
PV digunakan untuk menilai primary oxidation products, terutama hydroperoxides.
Saat polyunsaturated fatty acids mulai teroksidasi, peroxide compounds dapat terbentuk.
Karena itu PV sering digunakan sebagai salah satu indikator oxidation awal.
p-AnV — p-Anisidine Value
p-AnV digunakan untuk melihat secondary oxidation products, terutama aldehyde-related compounds yang muncul setelah peroxide compounds mengalami breakdown.
Ini penting karena suatu oil dapat memiliki PV yang tidak terlalu tinggi tetapi tetap telah mengalami oxidation lanjutan.
TOTOX — Total Oxidation
TOTOX mencoba memberikan gambaran yang lebih menyeluruh dengan menggabungkan primary dan secondary oxidation.
Secara konsep:
TOTOX ≈ 2 × PV + p-AnV
Karena itu TOTOX sering lebih informatif daripada membaca PV saja.
Mengapa oxidation menjadi isu besar untuk fish oil?
Karena polyunsaturated fatty acids mempunyai banyak double bonds.
Semakin banyak double bond, secara umum semakin besar susceptibility terhadap oxidation.
Oxidation dapat menyebabkan:
- perubahan aroma;
- rancidity;
- perubahan warna;
- degradasi fatty acids;
- terbentuknya oxidation products;
- dan penurunan kualitas bahan.
Dari perspektif skincare, masalah ini sangat penting.
Cosmetic product bukan digunakan segera setelah oil diekstraksi.
Ia harus melewati:
- processing;
- formulation;
- filling;
- packaging;
- transportation;
- storage;
- dan shelf life.
Artinya bahan yang menarik secara biological juga harus cukup stabil untuk bertahan di dalam produk.
Jadi apakah omega-3 justru menjadi kelemahan?
Bukan begitu.
Omega-3 adalah bagian dari alasan fish oil menarik.
Tetapi sifat unsaturated yang memberi berbagai biological characteristics juga membuat fatty acids tersebut lebih susceptible terhadap oxidation.
Inilah trade-off yang menarik:
biological interest tinggi, formulation challenge juga tinggi.
Karena itu formulator dapat perlu mempertimbangkan:
- antioxidant system;
- oxygen exposure;
- temperature;
- light;
- packaging;
- processing conditions;
- dan interaction dengan ingredients lain.
Di titik ini perspektif penelitian bahan bertemu dengan formulation science.
Apa yang ditemukan Prof. Sugeng dan Kamini dari penelitian patin sebelumnya?
Riset terhadap minyak ikan patin bukan dimulai pada 2026.
Dalam penelitian yang diterbitkan di Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia, Kamini, Pipih Suptijah, Joko Santoso, dan Sugeng Heri Suseno meneliti dry rendering dan karakterisasi minyak ikan dari lemak jeroan hasil samping pengolahan salai patin siam. Studi tersebut menilai fatty-acid profile dan berbagai quality parameters seperti PV, FFA, anisidine value, dan TOTOX. IPB Journal
Penelitian ini penting karena menunjukkan bahwa fish-processing by-product dapat dipandang bukan semata sebagai limbah, tetapi sebagai potential raw material yang masih dapat dikarakterisasi dan dikembangkan.
Tetapi sekali lagi:
bisa diekstraksi menjadi minyak
belum sama dengan
layak digunakan sebagai cosmetic ingredient.
Masih ada langkah berikutnya.
Dari fish oil menuju cosmetic ingredient
Agar fish oil dapat dipertimbangkan untuk skincare, setidaknya ada beberapa lapisan pertanyaan.
Source
↓
Extraction / Purification
↓
Quality Characterization
↓
Fatty-Acid Profile
↓
Oxidation Status
↓
Formulation Compatibility
↓
Stability
↓
Safety
↓
Relevant Testing
↓
Finished Product
Ini mirip dengan prinsip yang kita lihat pada natural bioactive lain.
Nama bahan saja tidak cukup.

Di sinilah formulation science mengambil alih
Setelah bahan dipilih, tantangannya berubah.
Bagi seorang researcher, pertanyaannya mungkin:
Bagaimana kualitas minyaknya?
Bagi seorang formulator, pertanyaannya menjadi:
Bisakah minyak ini dimasukkan ke dalam skincare tanpa kehilangan kualitas yang membuatnya menarik sejak awal?
Dalam tahap ini, apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm. membawa perspektif cosmetic formulation dan hilirisasi.
Fish oil harus hidup bersama ingredients lain dalam formula.
Misalnya:
- emollients;
- surfactants;
- emulsifiers;
- antioxidants;
- preservatives;
- fragrance;
- rheology modifiers;
- dan packaging system.
Karena itu formula tidak cukup hanya memiliki “5% fish oil”, misalnya.
Harus ditanyakan:
- apakah homogeneous?
- bagaimana aroma?
- bagaimana pH?
- apakah terjadi oxidation?
- bagaimana stability selama storage?
- apakah viscosity berubah?
- apakah consumer sensory acceptable?
- apakah claim didukung oleh finished-product testing?
Apakah tim sudah membuat formulanya?
Ya, tetapi status evidence-nya harus dibaca secara tepat.
Materi penelitian 2026 menunjukkan pengembangan serum minyak ikan patin dan serum kolagen patin. Pada prototype serum oil, minyak ikan patin digunakan sebesar 5% bersama sistem emollient, surfactant, antioxidant, fragrance, dan vitamin E. PPT Kosmetik minyak ikan patin
Karakterisasi awal menunjukkan kedua sediaan homogen dan berada dalam spesifikasi pH 6–7. Materi penelitian secara eksplisit menyatakan bahwa hasil awal tersebut mendukung kelanjutan pengujian mutu dan stabilitas selama penyimpanan. PPT Kosmetik minyak ikan patin
Ini berarti kita harus berhati-hati.
Hasil tersebut menunjukkan:
formulation feasibility awal
bukan:
clinical efficacy yang sudah terbukti.
Apakah fish oil skincare berarti “anti-inflammatory skincare”?
Belum tentu.
EPA dan DHA memang mempunyai biological relationship dengan inflammatory pathways.
Tetapi ada beberapa level evidence:
omega-3 biology
tidak sama dengan
fish oil ingredient evidence
dan keduanya tidak sama dengan
finished cosmetic product evidence.
Untuk membuat claim anti-inflammatory pada finished product, diperlukan testing yang memang relevan terhadap outcome tersebut dan sesuai dengan regulatory boundary kosmetik.
Jadi kalimat:
“Mengandung omega-3”
tidak otomatis berarti:
“telah terbukti mengurangi inflamasi kulit.”
Bagaimana dengan klaim skin barrier?
Logikanya sama.
Fatty acids relevan terhadap lipid biology dan skin barrier.
Tetapi produk harus dibuktikan pada level produk.
Misalnya dengan endpoint yang sesuai seperti:
- TEWL;
- skin hydration;
- barrier recovery;
- instrumental measurement;
- atau validated clinical assessment.
Tanpa itu, klaim harus tetap berada pada level yang sesuai dengan evidence yang tersedia.
Mengapa Indonesia mempunyai peluang menarik di sini?
Karena konteks riset ini bukan hanya kosmetik.
Ia juga terkait dengan pemanfaatan sumber daya perairan domestik dan peningkatan nilai tambah hasil samping industri perikanan.
Materi penelitian secara eksplisit menempatkan pengembangan fish oil sebagai salah satu peluang untuk menghasilkan bahan baku kosmetik bernilai tambah dari sumber daya domestik. PPT Kosmetik minyak ikan patin
Ini membuka hubungan antara:
fisheries science
dan
cosmetic science.
Satu sisi memahami bagaimana sumber daya perairan diekstraksi dan dikarakterisasi.
Sisi lain memahami bagaimana material tersebut harus diformulasikan, distabilkan, diuji, dan akhirnya diproduksi menjadi cosmetic product.
Di sinilah kolaborasi lintas disiplin menjadi penting.
Apa yang sudah cukup kita ketahui?
Fish oil adalah sumber berbagai fatty acids, termasuk omega-3
Evidence: established
Tetapi composition sangat berbeda antar species dan processing method.
EPA dan DHA mempunyai biological relevance terhadap skin science
Evidence: mechanistic + limited human topical evidence
Ada literature terkait inflammatory signaling, UV response, dan skin-aging pathways, tetapi tidak dapat digeneralisasi ke semua fish-oil formulations. Frontiers
Oxidation adalah critical quality issue pada fish oil
Evidence: established
Karena tingginya unsaturation, quality perlu dinilai dengan parameters yang relevan.
Quality tidak ditentukan oleh omega-3 concentration saja
Evidence: supported by current research framework
Riset Prof. Sugeng dan tim menunjukkan bahwa fatty-acid profile harus dibaca bersama FFA, PV, p-AnV, TOTOX, stability, dan formulation suitability. PPT Kosmetik minyak ikan patin
Minyak ikan patin telah diformulasikan dalam prototype skincare
Evidence: formulation-stage research
Tetapi karakterisasi awal belum sama dengan proof of efficacy. PPT Kosmetik minyak ikan patin
Apa yang belum boleh disimpulkan terlalu cepat?
Evidence yang ada belum berarti bahwa:
- semua fish oil mempunyai quality yang sama;
- fish oil dengan omega-3 tertinggi selalu terbaik untuk skincare;
- nutritional benefit omega-3 otomatis berlaku pada topical skincare;
- EPA/DHA mechanism otomatis menjadi finished-product benefit;
- fish oil otomatis memperbaiki skin barrier;
- prototype yang stabil secara fisik otomatis efektif secara klinis;
- penggunaan fish oil otomatis lebih baik daripada plant oils;
- satu species ikan cocok untuk semua cosmetic formulation.
Jadi, apakah minyak ikan layak menjadi bahan skincare?
Secara scientific, fish oil memang menarik sebagai sumber lipid dengan fatty-acid profile yang dapat mempunyai biological relevance terhadap kulit. Tetapi potensinya hanya menjadi meaningful ketika sumber, extraction, quality, oxidation, formulation, stability, dan finished-product evidence diperhatikan bersama.
Riset Prof. Sugeng, Kamini, dan tim menunjukkan bahwa perjalanan menuju cosmetic ingredient dimulai jauh sebelum formula dibuat.
Bahan harus terlebih dahulu dipahami.
Dan ketika bahan tersebut masuk ke formulation, perspektif Bu Cahya menjadi penting untuk menjawab pertanyaan berikutnya:
Bisakah biological potential itu bertahan sampai menjadi produk yang benar-benar digunakan konsumen?
Itulah garis pembeda antara sekadar menggunakan novel ingredient dan membangun science-based cosmetic innovation.
References
Prof. Dr. Sugeng Heri Suseno, S.Pi., M.Si. Academic Profile — Department of Aquatic Product Technology, Faculty of Fisheries and Marine Sciences, IPB University. Profil resmi mencantumkan beliau sebagai Guru Besar dengan fokus penelitian pada teknologi pengolahan minyak ikan, ekstraksi dan pemurnian, serta karakterisasi omega-3. THP IPB
Kamini, Suptijah P, Santoso J, Suseno SH. Extraction by Dry Rendering Methode and Characterization Fish Oil of Catfish Viscera Fat by Product of Smooked Fish Processing. Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia. 2016;19(3):196–205. DOI: 10.17844/jphpi.v19i3.15071. Artikel tersebut mencantumkan Kamini dan Prof. Sugeng dari Departemen Teknologi Hasil Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. IPB Journal
Suseno SH, Jacoeb AM, Yocinta HP, Kamini. Quality of Commercial Import Fish Oil (Softgel) in Central Java. Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia. 2018;21(3). Studi tersebut membahas kualitas fish oil menggunakan fatty-acid dan oxidation-related parameters. IPB Journal
Prof. Dr. Sugeng Heri Suseno, S.Pi., M.Si. et al. Pengembangan Diversifikasi Minyak Ikan Fungsional Kaya Omega 3 Sebagai Bahan Aktif Bernilai Tinggi pada Inovasi Produk Kosmetika Modern. Penelitian Terapan BIMA, 2026. PPT Kosmetik minyak ikan patin
Poljšak B, et al. The Enigma of Bioactivity and Toxicity of Botanical Oils for Skin Care. Frontiers in Pharmacology. 2020. Review membahas fatty-acid biology dan topical oil–skin interactions.