Memproduksi Skincare Berbasis Microbiome, Apa yang Berubah di Level Formulasi dan Manufaktur?

Editor Lunaray · 3 menit baca
Memproduksi Skincare Berbasis Microbiome, Apa yang Berubah di Level Formulasi dan Manufaktur?

Skincare berbasis microbiome membawa tantangan berbeda. Formulasi harus menjaga ekosistem kulit. Manufaktur pun perlu menyesuaikan cara produk dibuat, diawetkan, dan dibuktikan.

Ketika microbiome mulai menjadi bagian dari pengembangan kosmetik, pertanyaannya tidak berhenti pada bahan apa yang digunakan. Produk juga harus mempertimbangkan bagaimana formula berinteraksi dengan skin barrier, pH, hidrasi, lingkungan kulit, dan komunitas mikroorganisme yang hidup di dalamnya. Prof. Dr. apt. Keri Lestari, M.Si. menempatkan microbiome sebagai bagian dari ekosistem kulit yang saling berhubungan, bukan sistem yang berdiri sendiri. 

Dari perspektif pengembangan produk, konsekuensinya cukup besar. Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm. menekankan bahwa konsep biologis tetap harus diterjemahkan menjadi formula yang stabil, aman, dapat diproduksi, dan dapat diuji. Dengan kata lain, relevansi biologis sebuah konsep harus mampu bertahan ketika masuk ke realitas formulasi. 

Baca Juga: Sebelum Membuat Formula: Bagaimana Masalah Konsumen Diubah Menjadi Product Hypothesis?

Formula Tidak Lagi Bisa Hanya Berpikir soal Bahan Aktif

Produk yang membawa pendekatan microbiome tidak otomatis harus menggunakan probiotic. Pendekatan dapat berupa menjaga barrier, mempertahankan hidrasi, menggunakan sistem pembersih yang lebih lembut, menjaga pH yang sesuai, atau memilih strategi formulasi yang kompatibel dengan ekosistem kulit. Karena itu, gagasan microbiome-friendly lebih luas daripada sekadar menambahkan satu bahan bertema mikroorganisme. 

Perbedaan menjadi lebih jelas ketika formulasi menggunakan prebiotic, probiotic, atau postbiotic. Probiotic melibatkan mikroorganisme hidup sehingga muncul persoalan seperti viability, sistem pengawet, penyimpanan, pengendalian kontaminasi, stabilitas, dan keamanan. Sementara postbiotic tidak bergantung pada organisme hidup, tetapi tetap membutuhkan identitas bahan yang jelas, karakterisasi, konsentrasi, stabilitas, dan bukti yang relevan. 

Apt. Cahya membawa persoalan ini ke level formulasi yang lebih praktis. pH, sistem pengawet, stabilitas, kemasan, kompatibilitas, dan masa simpan tidak dapat diperlakukan sebagai persoalan terpisah setelah konsep biologis dipilih. Justru bagian-bagian tersebut menentukan apakah gagasan microbiome masih masuk akal ketika berubah menjadi produk nyata. 

Di sinilah desain formula berubah dari sekadar pemilihan bahan menuju desain sistem. Produk tidak cukup memiliki bahan yang dikaitkan dengan microbiome jika keseluruhan formula justru menciptakan kondisi yang tidak sesuai dengan tujuan awalnya. Satu bahan tidak mewakili seluruh karakter produk.

Baca Juga: Mengapa Pengembangan Kosmetik Sebaiknya Dimulai dari Masalah, Bukan Produk?

Di Pabrik, Tantangannya Bertambah Lagi

Ketika formula masuk ke produksi, perhatian bergeser ke kemampuan proses untuk menjaga karakter tersebut secara konsisten. Temperatur, waktu pencampuran, paparan udara, urutan penambahan bahan, pengawetan, pengisian, dan penyimpanan dapat memengaruhi stabilitas maupun karakter biologis bahan tertentu. Produk yang berhasil pada skala laboratorium tetap harus membuktikan bahwa hasilnya dapat diulang pada skala manufaktur.

Tantangan menjadi lebih besar jika produk benar-benar menggunakan mikroorganisme hidup. Jumlah organisme yang masih hidup perlu diperhatikan sejak produksi hingga akhir masa simpan, sementara pabrik tetap wajib mengendalikan mikroorganisme yang tidak diinginkan. Artinya, manufaktur menghadapi dua tuntutan sekaligus: menjaga komponen biologis yang diinginkan dan tetap memastikan keamanan mikrobiologis produk. 

Bukti juga tidak boleh berhenti pada bahan baku. Data bahwa suatu bahan memiliki aktivitas tertentu terhadap microbiome belum otomatis membuktikan bahwa produk jadinya memberikan hasil yang sama, karena konsentrasi, pH, interaksi bahan, pengawetan, stabilitas, kemasan, dan cara penggunaan dapat mengubah performanya. Karena itu, klaim pada produk jadi idealnya mengikuti bukti pada produk yang benar-benar diformulasikan dan diuji. 

Memproduksi skincare berbasis microbiome akhirnya bukan sekadar menambahkan konsep biologis baru ke formula lama. Ia menuntut hubungan yang lebih erat antara ilmu kulit, formulasi, pengujian, pengendalian mutu, dan manufaktur. Di sinilah inovasi microbiome benar-benar diuji: bukan ketika istilahnya terdengar menarik, tetapi ketika konsep tersebut tetap masuk akal sampai produk selesai diproduksi. [][Rudi Tenggarawan/LBF]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.