Apa yang Terjadi Ketika Hasil Quality Control Tidak Sesuai Spesifikasi?

Editor Lunaray · 3 menit baca
Apa yang Terjadi Ketika Hasil Quality Control Tidak Sesuai Spesifikasi?

Hasil quality control yang keluar dari spesifikasi bukan sekadar angka yang meleset. Ia menghentikan keputusan pelulusan. Dari sini, investigasi mutu harus dimulai.

Dalam produksi kosmetik, setiap batch memiliki spesifikasi yang menjadi batas penerimaan produk. Parameter tersebut dapat mencakup penampilan, warna, aroma, pH, viskositas, bobot, hingga parameter mikrobiologi sesuai jenis produk. Ketika salah satu hasil berada di luar spesifikasi, produk tidak bisa begitu saja dilanjutkan ke tahap distribusi.

Ketidaksesuaian juga tidak otomatis berarti seluruh batch harus langsung dibuang. Tim Pengawasan Mutu perlu memastikan hasil pemeriksaan, menelusuri proses produksi, dan mencari faktor yang mungkin berkontribusi terhadap penyimpangan. Prinsip dasarnya sederhana: keputusan terhadap produk harus dibuat berdasarkan data dan investigasi, bukan dugaan.

Baca Juga: Mengapa Produk yang Sudah Selesai Diproduksi Belum Tentu Langsung Bisa Dikirim?

Hasil yang Tidak Sesuai Harus Membuka Investigasi

Langkah pertama adalah memastikan bahwa hasil pemeriksaan memang dapat dipercaya. Tim dapat meninjau kembali metode pengujian, kondisi alat, sampel, pencatatan, dan tahapan pemeriksaan sebelum menarik kesimpulan mengenai produk. Jika hasil tetap menunjukkan ketidaksesuaian, investigasi bergerak lebih jauh menuju bahan baku, parameter proses, peralatan, personel, hingga lingkungan produksi.

Sebagai contoh, viskositas produk yang lebih rendah dari spesifikasi dapat memiliki banyak kemungkinan penyebab. Urutan pencampuran mungkin berubah, temperatur proses berbeda, karakter bahan baku berada pada variasi tertentu, atau waktu homogenisasi tidak sesuai dengan parameter yang telah ditetapkan. Karena itu, menemukan angka yang berbeda belum sama dengan menemukan penyebabnya.

Dilansir dari Direktorat Pengawasan Kosmetik BPOM, CPKB menempatkan pengawasan mutu, dokumentasi, penanganan keluhan, dan penarikan produk sebagai bagian dari sistem mutu industri kosmetik. BPOM juga menggunakan pendekatan Corrective Action and Preventive Action [CAPA] ketika ditemukan ketidaksesuaian dalam penerapan CPKB, sehingga masalah tidak hanya diperbaiki, tetapi akar penyebab dan pencegahannya ikut diperhatikan. 

Dokumentasi menjadi penting pada tahap tersebut. Catatan batch, hasil pemeriksaan bahan, parameter produksi, hingga riwayat peralatan membantu tim melihat apakah penyimpangan berasal dari satu kejadian atau menunjukkan pola yang lebih luas. Tanpa pencatatan yang baik, investigasi mudah berubah menjadi rangkaian asumsi.

Baca Juga: Mengapa Produk Kosmetik Harus Bisa Ditelusuri Kembali hingga Proses Produksinya?

Tidak Semua Ketidaksesuaian Berakhir dengan Keputusan yang Sama

Setelah penyebab dipahami, perusahaan perlu menentukan status produk berdasarkan prosedur dan bukti yang tersedia. Sebuah batch dapat tetap ditahan untuk pemeriksaan lanjutan, dinyatakan tidak memenuhi persyaratan, atau mendapatkan tindakan lain yang memang dibenarkan oleh sistem mutu. Yang tidak boleh terjadi adalah memaksakan produk untuk lulus hanya karena jadwal pengiriman sudah dekat.

ISO 22716 menempatkan produksi, pengendalian, penyimpanan, dan pengiriman kosmetik dalam satu kerangka Good Manufacturing Practices. Dikutip dari ISO, pengendalian mutu merupakan bagian dari upaya memastikan aspek kualitas produk tetap dijaga selama berada dalam sistem manufaktur. 

Jika investigasi menemukan penyebab yang dapat diperbaiki, pekerjaan berikutnya bukan hanya menyelesaikan persoalan pada batch tersebut. Sistem perlu melihat apakah prosedur harus diubah, personel membutuhkan pelatihan, parameter proses perlu diperketat, atau pemasok bahan perlu dievaluasi. Di sinilah CAPA berfungsi untuk menghubungkan temuan hari ini dengan pencegahan kejadian serupa pada produksi berikutnya.

Hasil quality control yang tidak sesuai spesifikasi karena itu bukan sekadar hambatan sebelum produk dikirim. Ia merupakan sinyal bahwa sistem perlu berhenti sejenak, membaca apa yang terjadi, lalu mengambil keputusan berdasarkan bukti. Bagi manufaktur, kemampuan menangani ketidaksesuaian dengan benar sama pentingnya dengan kemampuan menghasilkan batch yang sesuai sejak awal. [][Rudi Tenggarawan/LBF]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.