Kapan Konsep Produknya yang Harus Diubah, Bukan Formulanya?

Editor Lunaray · 3 menit baca
Kapan Konsep Produknya yang Harus Diubah, Bukan Formulanya?

Formula dapat direvisi berkali-kali. Ketika tuntutan produk saling bertentangan atau targetnya tidak realistis, persoalannya mungkin justru berada pada konsep sejak awal.

Pengembangan kosmetik sering bergerak melalui beberapa versi prototype. Tekstur diperbaiki, aroma disesuaikan, bahan aktif diganti, sensasi penggunaan dievaluasi, lalu sampel dibuat kembali. Revisi tersebut merupakan bagian wajar dari proses pengembangan selama setiap perubahan membawa formula semakin dekat kepada tujuan produk.

Persoalan muncul ketika revisi terus dilakukan tetapi tujuan tersebut tetap sulit dicapai. Brand mungkin menginginkan tekstur sangat ringan sekaligus sangat oklusif, banyak bahan aktif tetapi harga rendah, kemasan tertentu yang tidak kompatibel dengan formula, atau sejumlah klaim yang sulit ditopang oleh rancangan produk. Pada titik seperti ini, menambah satu revisi formula belum tentu menjadi jawaban.

Baca Juga: Kapan Sebuah Prototype Bisa Dianggap Cukup Matang untuk Masuk Tahap Pengujian?

Ketika Product Brief Meminta Terlalu Banyak Hal Sekaligus

Dilansir dari Labcos.id, perspektif Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm. menempatkan kualitas produk sebagai hasil dari rangkaian keputusan yang dibuat jauh sebelum produk selesai. Data pasar dan tren dapat membantu membentuk product hypothesis, tetapi keputusan tersebut tetap harus diterjemahkan melalui pemilihan bahan, formulasi, pembuatan prototype, evaluasi stabilitas, dan validasi performa. Artinya, gagasan yang menarik tetap perlu diuji apakah benar-benar dapat diwujudkan secara teknis.

Masalah karena itu dapat bermula sebelum formulator menyentuh bahan. Product brief yang meminta terlalu banyak manfaat, tidak memiliki target konsumen yang jelas, berubah mengikuti tren, atau tidak menetapkan prioritas dapat membuat R&D mengejar beberapa arah sekaligus. Cedefindo mencatat bahwa kesalahan seperti memasukkan terlalu banyak manfaat, menentukan produk hanya karena bahan sedang viral, atau terus mengubah arah produk dapat membuat proses pengembangan kehilangan fokus.

Nadia Zarrouk, Co-founder dan Cosmetic Engineering Consultant Coseer, dikutip dari Coseer, menjelaskan bahwa tren belum dapat disebut sebagai product brief. Istilah seperti 'brightening' atau 'glass skin' masih dapat memiliki banyak arti jika manfaat, pengalaman, dan target produknya belum didefinisikan secara jelas. Ketidakjelasan tersebut biasanya baru muncul sebagai persoalan ketika formulasi dan pengujian sudah berjalan.

Karena itu, revisi formula seharusnya tidak hanya menjawab pertanyaan 'bagian mana yang perlu diubah?'. Tim juga perlu bertanya apakah kebutuhan yang diminta sejak awal memang dapat hidup bersama di dalam satu produk.

Baca Juga: Apa yang Terjadi Ketika Target Harga Bertemu dengan Keinginan Formula?

Mengubah Konsep Bukan Berarti Pengembangan Gagal

Konsep produk dan formula berada pada dua tingkat keputusan yang berbeda. Konsep menjelaskan untuk siapa produk dibuat, masalah apa yang ingin dijawab, pengalaman seperti apa yang ingin diberikan, posisi harga, serta alasan produk tersebut perlu ada. Formula kemudian menjadi cara teknis untuk mewujudkannya.

Cedefindo menjelaskan bahwa product concept berfungsi sebagai penghubung antara strategi brand, kebutuhan pasar, dan pengembangan teknis. Konsep yang matang justru sebaiknya ditentukan sebelum formulasi, kemasan final, dan produksi agar setiap keputusan bergerak menuju posisi produk yang sama.

Tanda bahwa konsep perlu diperiksa kembali dapat terlihat ketika setiap revisi menciptakan kompromi baru. Menambah bahan aktif membuat target biaya terlewati, mengejar tekstur tertentu mengurangi kestabilan, kemasan pilihan membatasi karakter formula, atau klaim yang diinginkan membutuhkan pengujian jauh di luar rencana awal. Dalam kondisi tersebut, perubahan konsep dapat lebih rasional daripada terus memaksa formula memenuhi semua tuntutan sekaligus.

Pengembangan yang baik karena itu bukan mempertahankan ide awal dengan segala cara. Ada saatnya tim perlu menentukan kembali mana yang benar-benar menjadi identitas produk dan mana yang dapat dilepas. Ketika konsep menjadi lebih tajam, pekerjaan formulator juga menjadi lebih terarah karena formula tidak lagi diminta menyelesaikan persoalan yang sebenarnya berasal dari keputusan produk. [][Adrian Damar/LBF]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.