Dari Minyak Ikan hingga EGCG, Kapan Bahan Lokal Siap Menjadi Bahan Kosmetik?

Editor Lunaray · 3 menit baca
Dari Minyak Ikan hingga EGCG, Kapan Bahan Lokal Siap Menjadi Bahan Kosmetik?

Bahan lokal bisa menjanjikan di laboratorium. Namun potensi itu belum cukup. Ia harus stabil, dapat diformulasikan, diproduksi, diuji, dan tersedia secara konsisten.

Indonesia memiliki banyak sumber daya yang berpotensi dikembangkan menjadi bahan kosmetik, tetapi asal lokal tidak otomatis membuat suatu bahan siap masuk ke formula. Peneliti perlu memahami komposisi, kualitas, aktivitas biologis, serta karakter bahan sebelum formulator mulai mempertimbangkan penggunaannya. Setelah itu masih ada perjalanan panjang menuju produk yang dapat diproduksi secara konsisten.

Minyak ikan dan EGCG dari teh hijau menunjukkan persoalan tersebut dari dua arah berbeda. Keduanya memiliki alasan ilmiah yang menarik untuk diteliti, tetapi keduanya juga membawa tantangan ketika harus bertahan di dalam formula nyata. Dengan demikian, kesiapan bahan kosmetik ditentukan bukan hanya oleh apa yang dapat dilakukan bahan tersebut, melainkan seberapa baik potensinya dapat dipertahankan.

Baca Juga: Memproduksi Skincare Berbasis Microbiome, Apa yang Berubah di Level Formulasi dan Manufaktur?

Potensi Biologis Baru Menjadi Titik Awal

Pada EGCG, Dr. apt. Naniek Widyaningrum, M.Sc. dan tim menemukan bahwa molekul ini memiliki aktivitas biologis yang menarik, termasuk dalam konteks antioksidan dan antibakteri. Namun EGCG juga sensitif terhadap panas dan oksidasi, sedangkan kestabilannya dipengaruhi pH, sistem formulasi, dan kondisi penyimpanan. Artinya, aktivitas yang terlihat di laboratorium belum otomatis bertahan sampai produk digunakan konsumen. 

Tantangan serupa terlihat pada minyak ikan. Riset Prof. Dr. Sugeng Heri Suseno, S.Pi., M.Si. dan tim menunjukkan bahwa kadar omega-3 tertinggi tidak otomatis membuat suatu minyak menjadi kandidat terbaik untuk kosmetik. Profil asam lemak harus dibaca bersama parameter oksidasi, kestabilan, proses pengolahan, dan kesesuaian bahan untuk formulasi. 

Contoh tersebut menunjukkan bahwa satu angka atau satu aktivitas tidak cukup untuk menentukan kesiapan bahan. Bahan lokal perlu dikarakterisasi agar kualitasnya dapat dipahami dan kemudian distandardisasi. Tanpa tahap tersebut, variasi sumber maupun proses dapat membuat performa bahan sulit dipertahankan ketika digunakan berulang kali.

Persoalan stabilitas bahkan dapat menjadi pembatas utama. Asam lemak tak jenuh dalam minyak ikan relatif rentan terhadap oksidasi, sementara EGCG juga menghadapi persoalan oksidasi dan panas. Keduanya menunjukkan bahwa potensi biologis dan kerentanan bahan sering datang bersamaan. 

Baca Juga: Minyak Ikan untuk Skincare: Apa Potensinya untuk Kulit dan Seberapa Kuat Evidence-nya?

Bahan Siap Ketika Bisa Bertahan Menjadi Produk

Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm. membawa pertanyaan kesiapan bahan ke tahap formulasi dan hilirisasi. Dalam pengembangan minyak ikan, misalnya, bahan harus dapat bekerja bersama pengemulsi, antioksidan, pengawet, pewangi, pengatur viskositas, dan sistem kemasan. Homogenitas, aroma, pH, oksidasi, stabilitas, penerimaan sensori, hingga pengujian produk jadi kemudian ikut menentukan apakah bahan tersebut realistis untuk dikembangkan. 

Pada EGCG, logikanya serupa. Apt. Cahya menempatkan pertanyaan bukan lagi hanya pada aktivitas biologis molekul tersebut, tetapi apakah aktivitas itu masih dapat dipertahankan setelah bertemu pH, pelarut, pengemulsi, sistem pengawet, sistem antioksidan, proses, kemasan, dan penyimpanan. Riset menemukan potensi, formulasi berusaha mempertahankannya, sedangkan pengujian menentukan apakah produk akhirnya benar-benar memberikan hasil yang relevan. 

Kesiapan juga berarti bahan dapat diperoleh kembali dengan kualitas yang dapat dikendalikan. Produk komersial harus diproduksi berulang kali, sehingga sumber, proses pengolahan, spesifikasi, stabilitas, dan pasokan menjadi bagian dari keputusan hilirisasi. Bahan yang hanya berhasil pada satu percobaan belum tentu siap menjadi fondasi produk jangka panjang.

Minyak ikan dan EGCG memperlihatkan bahwa bahan lokal tidak menjadi bernilai hanya karena unik atau memiliki cerita ilmiah yang menarik. Ia menjadi bahan kosmetik ketika kualitasnya dapat dipahami, potensinya bertahan dalam formula, proses produksinya dapat dikendalikan, dan bukti pada produk akhirnya sesuai dengan klaim yang ingin dibangun. Di situlah riset benar-benar berubah menjadi inovasi yang dapat dihilirkan. [][Rudi Tenggarawan/LBF]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.