Bahan alam bisa terlihat menjanjikan di laboratorium. Tetapi ketika formula diperbesar, karakter bahan, kestabilan, proses, dan mutu harus kembali diuji dalam kondisi produksi.
Perjalanan bahan alam menuju kosmetik tidak berhenti ketika ekstrak atau minyak berhasil dikarakterisasi. Bahan masih harus bertahan selama formulasi, pengolahan, pengisian, pengemasan, penyimpanan, hingga masa simpan produk. Artinya, potensi biologis hanya menjadi satu bagian dari persoalan yang harus diselesaikan sebelum sebuah formula layak dibawa ke skala produksi.
Tantangan tersebut semakin nyata ketika formula yang berhasil dibuat dalam jumlah kecil memasuki tahap scale-up. Volume meningkat, peralatan berubah, perpindahan panas berbeda, dan waktu proses dapat bertambah. Karena itu, membawa formula ke tangki produksi bukan sekadar mengalikan jumlah setiap bahan dengan angka yang lebih besar.
Baca Juga: Mengapa Proses Filling Bisa Memengaruhi Hasil Akhir Produk Kosmetik?
Karakter Bahan Alam Harus Bertahan Saat Skala Membesar
Prof. Dr. Sugeng Heri Suseno, S.Pi., M.Si. dan tim menunjukkan pentingnya memahami bahan sebelum masuk ke formulasi melalui penelitian minyak ikan. Sumber bahan, metode ekstraksi atau pemurnian, profil asam lemak, serta parameter oksidasi perlu dibaca bersama karena kualitas bahan tidak dapat ditentukan hanya dari satu angka seperti kadar omega-3. Penelitian tersebut memperlihatkan bahwa bahan yang dapat diekstraksi belum otomatis siap menjadi bahan kosmetik.
Persoalan menjadi lebih rumit ketika bahan tersebut masuk ke proses produksi. Minyak dengan kandungan asam lemak tak jenuh, misalnya, relatif rentan terhadap oksidasi sehingga paparan oksigen, temperatur, cahaya, kondisi proses, serta sistem antioksidan perlu diperhitungkan. Sifat biologis yang membuat bahan menarik justru dapat menjadi sumber tantangan jika kestabilannya tidak mampu dipertahankan.
Contoh lain terlihat pada EGCG dari teh hijau. Penelitian Dr. apt. Naniek Widyaningrum, M.Sc. menunjukkan bahwa kestabilan EGCG dipengaruhi panas, oksidasi, pH, sistem formulasi, dan kondisi penyimpanan. Sebelum bahan tersebut memberikan manfaat di kulit, molekulnya harus terlebih dahulu mampu bertahan selama formulasi, manufaktur, penyimpanan, distribusi, dan penggunaan produk.
Tahap scale-up karena itu tidak hanya menguji apakah formula masih dapat dibuat. Ia juga menguji apakah bahan aktif tetap berada dalam kondisi yang sesuai ketika waktu pemanasan, pencampuran, pendinginan, atau paparan lingkungan produksi berubah. Bahan alam yang sensitif membuat setiap parameter proses menjadi bagian dari upaya mempertahankan kualitas.
Baca Juga: Apa yang Sebenarnya Terjadi Saat Formula Masuk Tahap Scale-Up?
Tangki Produksi Menguji Apakah Formula Bisa Diulang
Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm. membawa persoalan bahan alam ke wilayah formulasi dan hilirisasi. Dalam konteks minyak ikan, bahan harus dapat hidup bersama emolien, surfaktan, pengemulsi, antioksidan, pengawet, pewangi, pengubah reologi, dan sistem kemasan. Karena itu, konsentrasi saja tidak cukup; homogenitas, aroma, pH, oksidasi, stabilitas, viskositas, penerimaan sensori, dan pengujian produk jadi juga perlu diperiksa.
Ketika formula masuk ke tangki produksi, manufaktur perlu memastikan hasilnya tetap dapat dikendalikan. Formula yang homogen pada skala kecil belum tentu memiliki pola pencampuran yang sama dalam volume besar, sedangkan perubahan temperatur atau waktu proses dapat memengaruhi bahan yang sensitif. Inilah alasan parameter produksi perlu disesuaikan dan dicatat, bukan sekadar mengikuti resep laboratorium secara harfiah.
Keberhasilan scale-up juga berarti formula dapat dibuat kembali dari satu batch ke batch berikutnya dengan karakter yang tetap berada dalam spesifikasi. Jika bahan alam memiliki variasi sumber atau karakter, pengendalian bahan awal menjadi semakin penting agar variasi tersebut tidak berkembang menjadi perbedaan besar pada produk jadi. Di titik ini, riset bahan, formulasi, pengawasan mutu, dan produksi bertemu dalam satu sistem.
Bahan alam dapat membawa identitas dan peluang inovasi yang kuat, tetapi pabrik membutuhkan lebih dari cerita asal atau aktivitas biologisnya. Nilai bahan baru benar-benar teruji ketika ia mampu melewati proses produksi tanpa kehilangan kualitas yang membuatnya menarik sejak awal. Scale-up menjadi titik ketika potensi bahan alam mulai dibuktikan sebagai produk yang dapat diproduksi secara konsisten. [][Rommy Rimbarawa/LBF]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.