Mengapa Sampel Pertinggal Penting Ketika Keluhan Produk Muncul?

Editor Lunaray · 3 menit baca
Mengapa Sampel Pertinggal Penting Ketika Keluhan Produk Muncul?

Ketika konsumen mengeluhkan perubahan warna, aroma, tekstur, atau kemasan, sampel pertinggal membantu manufaktur mengetahui apakah masalah berasal dari produk sejak awal.

Keluhan terhadap kosmetik dapat muncul setelah produk berada berbulan-bulan di pasar. Konsumen mungkin melaporkan krim berubah warna, aroma berbeda, tekstur menjadi lebih cair, atau pump tidak lagi bekerja sebagaimana mestinya. Bagi manufaktur, laporan seperti itu tidak cukup dijawab dengan dugaan.

Tim mutu perlu mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada produk dari batch tersebut. Salah satu alat yang membantu investigasi adalah sampel pertinggal, yaitu contoh produk jadi dari batch yang telah diproduksi dan disimpan dalam kondisi yang ditetapkan agar dapat diperiksa kembali ketika diperlukan.

Baca Juga: Mengapa Perubahan Kecil dalam Bahan, Kemasan, atau Proses Harus Dikendalikan?

Sampel Pertinggal Menjadi Pembanding terhadap Produk yang Beredar

Dilansir dari BPOM, pemilik nomor notifikasi wajib menyimpan kosmetik sebagai contoh pertinggal untuk setiap batch yang diedarkan. Sampel tersebut disimpan paling singkat satu tahun setelah kedaluwarsa dan jumlahnya harus memadai untuk kebutuhan pengujian. BPOM secara khusus menyebut sampel pertinggal sebagai referensi stabilitas sekaligus rujukan ketika perusahaan menerima keluhan pelanggan.

Fungsinya menjadi jelas ketika keluhan muncul. Jika konsumen melaporkan satu produk mengalami perubahan warna, tim dapat membandingkan produk tersebut dengan sampel pertinggal dari nomor batch yang sama. Apabila sampel yang disimpan di pabrik tetap sesuai spesifikasi, tim kemudian dapat mempertimbangkan faktor distribusi, penyimpanan, paparan suhu, atau kondisi penggunaan sebagai bagian dari investigasi.

Sebaliknya, jika sampel pertinggal menunjukkan perubahan serupa, ruang investigasi dapat bergeser ke proses produksi, bahan baku, kemasan, atau stabilitas formula. Dari sinilah nomor batch, catatan produksi, hasil quality control, pemasok bahan, hingga riwayat perubahan proses mulai dibaca bersama.

Dilansir dari Labcos, perspektif Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm. menekankan bahwa kualitas produk dibentuk oleh keputusan selama proses, bukan hanya dinilai dari produk akhirnya. Dalam konteks investigasi mutu, cara sampel diambil dan apakah sampel tersebut benar-benar mewakili batch menjadi penting agar hasil pengujian tidak memberikan gambaran yang keliru.

Baca Juga: Apa yang Terjadi Ketika Hasil Quality Control Tidak Sesuai Spesifikasi?

Sampel Tidak Berdiri Sendiri tanpa Ketertelusuran

Sampel pertinggal tidak dapat menjawab seluruh persoalan sendirian. Nilainya baru maksimal ketika perusahaan memiliki sistem traceability yang mampu menghubungkan sampel dengan bahan baku, proses produksi, hasil pengujian, perubahan pemasok, kemasan, hingga jalur distribusi. Dilansir dari Labcos, keluhan yang berulang pada nomor batch tertentu dapat menjadi sinyal bahwa investigasi perlu dilakukan lebih jauh dengan memeriksa catatan tersebut bersama sampel pertinggal.

Prof. Dr. apt. Sriwidodo, M.Si., dikutip dari Labcos.id, menempatkan konsistensi proses dan kecenderungan data sebagai bagian penting dalam pengkajian mutu. Prinsip ini relevan ketika sebuah keluhan tidak lagi terlihat sebagai kejadian tunggal, tetapi mulai menunjukkan pola yang berulang pada batch, periode produksi, atau kondisi tertentu.

Praktik serupa juga digunakan dalam pengawasan kosmetik di negara lain. Health Sciences Authority Singapore memasukkan pemeriksaan dan pengujian retention sample sebagai salah satu langkah yang dapat dilakukan ketika menyelidiki cacat produk, bersama peninjauan batch record, riwayat keluhan, penyimpangan, dan tindakan korektif.

Karena itu, menyimpan sampel pertinggal bukan pekerjaan administratif yang selesai setelah produk masuk gudang. Sampel tersebut merupakan rekaman fisik dari sebuah batch yang dapat kembali ‘berbicara’ ketika masalah muncul. Bagi manufaktur, kemampuan membandingkan produk yang dikeluhkan dengan produk yang masih berada dalam pengawasan internal dapat membuat investigasi bergerak dari dugaan menuju bukti. [][Rudi Tenggarawan/LBF]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.